"Co-Working Space" Masih akan Terus Berkembang

Kompas.com - 09/04/2019, 08:32 WIB
Suasana kerja di co-working space. angelrealestate.co.thSuasana kerja di co-working space.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan co-working space atau ruang kerja bersama sepanjang 2018 mengalami peningkatan cukup signifikan. Tren ini bahkan diperkirakan bakal mengalami pertumbuhan dalam beberapa waktu ke depan.

Riset Colliers International Indonesia dan Savills Indonesia menunjukkan adanya pertumbuhan co-working space hingga 70.000 meter persegi sepanjang tahun lalu.

"2018 menjadi tahun penting bagi operator co-working space karena mereka terus meningkatkan kehadiran mereka di Jakarta, berdasarkan catatan kami, total co-working space mencapai 120.000 meter persegi," ujar Head of Research and Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus.

Dari catatan tersebut, 61 persen atau sekitar 73.200 meter persegi luas area co-working space berada di kawasan pusat bisnis niaga (CBD) Jakarta. Sementara 39 persen sisanya atau sekitar 46.800 meter persegi berada di luar kawasan CBD.

Baca juga: Tren Berubah, Perusahaan Besar Mulai Lirik Co-Working Space

Berbeda dengan daerah CBD, hampir semua operator ruang kerja bersama di daerah non-CBD berbasis lokal. Operator utama yang mendominasi pasar non-CBD termasuk Co Hive, Union Space dan Werkspace.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Anton mengatakan, pesatnya pertumbuhan itu didorong agresifnya kinerja operator dalam menjalin kerja sama untuk membuka ruang-ruang baru.

"Seperti Wework misalnya, yang membuka tiga lokasi baru sepanjang 2018. Atau CoHive yang baru saja membuka lebih dari sepuluh lokasi baru di dalam portofolionya," ujarnya.

Anton menambahkan, di tengah kondisi pasar yang kian kompetitif, para pemilik gedung melihat kemitraan yang kian agresif dikembangkan operator sebagai angin segar.

Mereka pun tak segan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan menambah fleksibilitas serta diversifikasi aset mereka.

"Ke depan, kami berharap tren kerja sama terus berlanjut, tetapi tidak mungkin pada kecepatan yang sama dalam dua tahun terakhir. Di samping itu, operator yang masuk kian beragam. Seperti Spaces dari Amsterdam yang kini telah menempati lebih dari 2.200 meter persegi ruang di WTC 3," tutur Anton.

Sementara itu, Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menilai, Indonesia termasuk negara tertinggal dalam tren co-working space, lantaran baru masuk dua tahun terakhir.

Saat ini, tidak sedikit jumlah operator lokal dan internasional yang bermain dalam bisni tersebut. Namun untuk kawasan CBD, kebanyakan diisi oleh operator internasional.

"Karena untuk masuk ke CBD itu mahal, sehingga perlu modal yang besar," ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X