Atasi Banjir Sentani, Pemerintah Bangun Sabo Dam

Kompas.com - 02/04/2019, 12:30 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono Kementerian PUPRMenteri PUPR Basuki Hadimuljono

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendekatan struktural dan non-struktural akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi dampak banjir bandang yang terjadi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengutarakan rencana pembangunan sabo dam untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat banjir.

Pembangunan tersebut dilakukan guna menahan laju material yang ikut terangkut saat banjir seperti batang kayu, batu besar hingga pasir.

Material-material tersebut berasal dari sejumlah sungai yang berada di sekitar Pegunungan Cycloops seperti Sungai Dobokurung, Sungai Kemiri, dan Sungai Kertosari.

"Karena ini materialnya juga masih terbawa, kita bikin seperti di Merapi sabo dam. Airnya bisa mengalir, materialnya bisa tertahan," kata Basuki di lokasi, Senin (1/4/2019).

Baca juga: Warga Terdampak Banjir Bandang Sentani Bakal Direlokasi

Dengan pembangunan tersebut, diharapkan air yang mengalir dapat kembali ke sungai hingga ke Danau Sentani.

"Kalau material tidak kita arahkan ke channel, dia pasti menghantam hilir," imbuh dia.

Selain itu, Kementerian PUPR juga berencana memperlebar badan sungai yang kini menyempit akibat pembangunan pemukiman.

Menurut Basuki, banjir di Sungai Dobokurung memang kerap terjadi setiap 5-6 tahun. Namun, intensitas banjir tidak sebesar yang terjadi belum lama ini.

"Tahun ini debitnya begitu besar, sehingga dia meluap. Meluapnya ini karena perubahan lansekap. Tempat ini dulunya bukit yang memanjang dari sana sampai ke hilir, sehingga dia bisa menahan aliran sungai," terang Basuki.

Baca juga: Pasca-banjir Sentani, Kementerian PUPR Bersihkan Jalan Nasional

"Saat bangun perumahan ini, bukitnya diratakan. Jadi ini terjadi banjir besar dia meluap. Itu pengamatan sekilas dari kami," lanjut dia.

Di pembangunan struktural, Basuki menambahkan, diperlukan penanganan terhadap Pegunungan Cyclops.

"Kalau kita melihat sebenarnya masih hutan, tapi humusnya pendek. Akarnya saya kira bukan akar tungang, ini dari LHK (Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup) itu (yang menangani). Kami dari disiplin sungainya yang akan kami arahkan tadi," tuntas Basuki.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X