MRT Jakarta Incar Pendapatan Rp 180 Miliar dari Penjualan Tiket

Kompas.com - 24/03/2019, 15:42 WIB
Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) saat uji coba dari Stasiun Lebak Bulus ke Bundaran HI di Jakarta, Senin (18/2/2019). Kereta MRT atau Ratangga akan dibuka untuk komersil antara tanggal 24 - 31 Maret 2019.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) saat uji coba dari Stasiun Lebak Bulus ke Bundaran HI di Jakarta, Senin (18/2/2019). Kereta MRT atau Ratangga akan dibuka untuk komersil antara tanggal 24 - 31 Maret 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT MRT Jakarta tak ingin mematok target pendapatan terlalu tinggi pada masa-masa awal MRT Jakarta beroperasi.

Sampai akhir tahun ini, MRT Jakarta hanya mematok target pendapatan Rp 280 miliar, yaitu Rp 100 miliar dari bisnis non farebox dan Rp 180 miliar dari penjualan tiket.

"Proyeksi non farebox sekitar Rp 100 miliar. Itu dari retail, naming right, telco. Ini kan masih baru," kata Direktur Keuangan PT MRT Jakarta, Tuhiyat, di Bundaran HI, Minggu (24/3/2019).

Baca juga: Presiden Canangkan Pembangunan Fase 2 MRT Jakarta

Sementara untuk penjualan tiket, ia mengaku, hingga kini belum ditentukan tarif yang akan berlaku. Penentuan tarif baru diputuskan oleh Pemerintah Provinsi DKI, Senin (25/3/2019) besok.

Namun, bila menggunakan usulan tarif rata-rata Rp 10.000, maka diperoleh proyeksi pendapatan Rp 180 miliar. Dengan catatan, jumlah penumpang yang naik MRT mencapai 65.000 per hari.

"Perhitungannya mulai 1 April ya. Hitungannya, kalau kali rata-rata Rp 10.000 dikali 275 hari (dikali 65.000 penumpang), kurang lebih Rp 180 miliar selama sembilan bulan," tambah Tuhiyat.




Close Ads X