Kompas.com - 28/02/2019, 17:17 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkeliling di lingkungan Apartemen Kalibata City, Minggu (16/9/2019). Anies menuturkan prostitusi yang marak terjadi di apartemen itu menjadi perhatian Pemprov DKI Jakarta. Instagram Anies BaswedanGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkeliling di lingkungan Apartemen Kalibata City, Minggu (16/9/2019). Anies menuturkan prostitusi yang marak terjadi di apartemen itu menjadi perhatian Pemprov DKI Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang tahun 2018, Ombudsman DKI Jakarta menerima 20 laporan masyarakat terkait persoalan rumah susun dan apartemen.

Sebagian besar laporan yang masuk terkait Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) termasuk potensi maladministrasi dalam tata kelola rumah susun.

"Sebenarnya yang masuk itu banyak. Misalnya dalam satu laporan itu ada sekian puluh hingga ratus orang. Tapi kami kelompokkan hingga menjadi 20 laporan," kata Kepala Perwakilan Ombudsman Jakarta Raya Teguh Nugroho dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

"Dari jumlah tersebut ada delapan yang terkait P3SRS," imbuh dia.

Baca juga: Setelah Lebaran, Rusunami DP 0 Rupiah Diserahkan ke Konsumen

Misalnya, tumpang tindih kewenangan dalam aspek pengawasan oleh pemerintah oleh kementerian, pemda atau BUMN.

Kemudian, penundaan berlarut dalam sertifikasi hak satuan rusun oleh kantor pertanahan, hingga tidak taat prosedur tentang pemanfaatan ruang bersama dengan skema kerja sama rusun sebagai aset pemda atau BUMN.

"Laporan yang masuk ini di antaranya berasal dari Apartemen Slipi, Kalibata, Cempaka Mas, Mangga Dua, Kebon Kacang, hingga Rusun Tanah Abang. Sebagian sudah kami tangani dan selesai," ungkap Teguh.

Ia menambahkan, hadirnya Peraturan Menteri PUPR Nomor 23/PRT/M/2018 tentang P3SRS dan Peraturan Gubernur DKI Nomor 132 Tahun 2018 tentang Pembinaan Pengelolaan Rumah Susun Milik kian memberikan kepastian kepada pemilik rusun untuk mendapatkan hak-haknya.

Dalam Pergub tercantum kewajiban para pengembang apartemen mengembalikan pengelolaan ke warga. Jika tidak, Pemprov DKI Jakarta akan memberi sanksi ke pengembang.

"Menurut kami adalah jalan terbaik untuk hindari konflik berikutnya," tutup Teguh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.