Bersertifikat Gedung Hijau, Teraskita Irit 50 Persen Biaya Operasional

Kompas.com - 26/02/2019, 13:00 WIB
Green building butuh investasi lebih tinggi ketimbang pembangunan konvensional.shutterstock Green building butuh investasi lebih tinggi ketimbang pembangunan konvensional.

JAKARTA, KOMPAS.com – Gedung Teraskita menjadi salah satu bangunan di Jakarta yang mendapat sertifikat green building ( gedung hijau) dari International Finance Corporation (IFC)dan Green Building Council Indonesia (GBCI).

Chief Engineering Teraskita Asep Arifin mengatakan, pihaknya bisa menghemat ongkos operasional perusahaan sampai 50 persen dalam satu tahun karena menerapkan konsep bangunan hijau.

Secara nominal, jumlahnya mencapai Rp 2,7 miliar per tahun. Angka itu setara dengan konsumsi energi dari 405 rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan konsumsi air dari 147 rumah dengan tipe yang sama.

Ada beberapa cara yang diaplikasikan dalam pengelolaan gedung tersebut, antara lain melalui pengaturan sistem kelistrikan dan konsumsi air.

“Kami atur listriknya, misalnya penggunaan AC sampai meteran listrik. Untuk airnya, kami punya sistem recycling. Air bisa dihemat dan dibagi, misalnya untuk yang diminum dan menyiram tanaman,” kata Asep kepada Kompas.com, Senin (25/2/2019).

Baca juga: Gedung Hijau Sengaja Dibangun untuk Menarik Orang Asing

Dengan pengaturan itu, dia mengaku bisa menghemat penggunaan air antara 40 sampai 50 persen. Sedangkan pemakaian listriknya disesuaikan dengan tingkat hunian yang ada sehingga energi listrik tidak terbuang percuma saat tidak ada orang.

“Okupansinya berbanding lurus dengan tagihan listrik. Kami bisa saving air 40 sampai 50 persen,” tambahnya.

Teraskita berada di daerah Cawang, Jakarta Timur, dan merupakan gedung yang terdiri dari perkantoran dan hotel berbintang 3 yang memiliki 149 kamar.

Menurut Asep, awalnya dia tidak mengerti alasan pembangunan gedung hijau tersebut karena membutuhkan biaya investasi yang lebih besar dan proses konstruksi yang lebih lama.

Setelah beberapa tahun bekerja di sana, dia baru menyadari bahwa manfaat bangunan hijau bisa didapat setelah merasakan perbedaan biya operasional dibanding gedung konvensional lainnya.

“Proses bangun green building memang agak panjang. Setelah 3 tahun saya baru tahu bahwa maksudnya investasi di awal lebih besar, tapi saving di kemudian hari lebih banyak,” imbuhnya.

Adapun strategi yang ditempuh pengelola Teraskita untuk menghemat pengeluaran, antara lain memaksimalkan ukuran jendela dan memakai jenis kaca berkualitas bagus sehingga meringankan beban pendingin ruangan.

Kemudian, mengefisienkan sistem pendingin ruangan dan memakai lampu hemat energi yang diatur dengan sensor cahaya alami di berbagai area gedung.

Selain itu, untuk konsumsi air menggunakan alat pengatur dengan debit air rendah, serta memanfaatkan air tadah hujan dan daur ulang untuk keperluan di toilet dan pengairan di taman.

Dari segi material, hampir sama dengan gedung hijau lainnya, yaitu baja dan beton bangunannya menggunakan bahan mentah yang berasal dan dibuat di Indonesia, sedangkan kayunya harus yang bersertifikat. 




Close Ads X