Tambaklorok, Kawasan Nelayan yang Disambangi Jokowi Tak Lagi Kumuh

Kompas.com - 23/02/2019, 19:46 WIB
Di atas tanggul ini, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo berbincang dengan sejumlah nelayan Tambak Lorok, Semarang, sebelum debat Pilpres 2019 putaran kedua.Kompas.com / Dani Prabowo Di atas tanggul ini, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo berbincang dengan sejumlah nelayan Tambak Lorok, Semarang, sebelum debat Pilpres 2019 putaran kedua.

SEMARANG, KOMPAS.com - Saat debat Pilpres 2019 putara kedua, calon presiden ;petahana Joko Widodo ( Jokowi) mengaku sempat ke kawasan Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, saat tengah malam untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Hal itu dilakukan Jokowi untuk mengetahui secara langsung kendala, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat nelayan.

Tambaklorok merupakan sebuah kawasan kampung bahari yang telah ditata oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

Baca juga: Basuki: Tol Semarang-Demak Bakal Hilangkan Banjir Rob

Kawasan ini sebelumnya merupakan wilayah kumuh, dan langganan terkena banjir rob setiap tahunnya. Persoalan yang dihadapi pun tak berhenti sampai di sana.

Sebut saja pendangkalan alur muara Sungai Kanal Banjir Timur Lama yang menjadi sarana transportasi dan tambatan perahu nelayan, serta drainase dan sanitasi yang tidak memada.

Kemudian pemukiman yang tidak tertata, hingga lingkungan yang kurang nyaman karena tidak adanya ruang terbuka hijau (RTH).

Sebuah kapal terlihat berada di atas parapet tanggul Tambak Lorok Kota Semarang.Kompas.com / Dani Prabowo Sebuah kapal terlihat berada di atas parapet tanggul Tambak Lorok Kota Semarang.

Pada 2014, pasca-dilantik sebagai Presiden RI ketujuh, Jokowi menyambangi wilayah tersebut dan kemudian mencanangkannya sebagai Kampung Bahari.

Untuk mengatasi banjir dan rob yang kerap terjadi, dibuatlah tanggul dan alur transportasi perahu atau kapal nelayan ditata ulang.

"Wilayah ini ditata, dibuatkan tanggul sepanjang 1.475 meter dengan lebar sekitar 6 meter," ucap PPK Sungai dan Pantai 1 BBWS Pemali Juana Dani Prasetyo, saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (23/2/2019).

Baca juga: China dan BUMN Berebut Tol Semarang-Demak

Untuk pembangunannya, anggaran APBN yang dialokasikan mencapai Rp 151 miliar dengan skema kontrak tahun jamak atau multiyears 2015 hingga 2017.

Tanggul dibuat setinggi tiga meter untuk menghalau banjir rob.

Pada waktu-waktu tertentu, puncak ketinggian banjir rob dapat mencapai 3 meter. Dengan keberadaan tanggul tersebut, sekitar 2.000 warga yang tinggal di lokasi terlindungi dari risiko banjir rob.

Tanggul itulah yang kemudian kembali disinggahi Jokowi sebelum debat Pilpres kedua lalu.

Wilayah Tambak Lorok di Kota SemarangKompas.com / Dani Prabowo Wilayah Tambak Lorok di Kota Semarang

Salah seorang nelayan Junedi mengaku, menerima manfaat yang cukup besar dengan kehadiran tanggul ini. Sebelum ada tanggul, wilayah tempat tinggalnya sangat kumuh terutama saat banjir.

"Tadinya kumuh. Sekarang lebih tertata. Kami mengucapkan banyak terima kasih," kata dia.

Meski demikian, Junedi berharap, bantuan yang diberikan pemerintah kepada nelayan terus berkelanjutan. Saat ini, nelayan masih kerap dihantui gelombang tinggi saat pasang.

Bahkan pada sekitar Desember-Januari, ketinggian gelombang bisa mencapai dua meter. Bila hal itu terjadi, hempasan gelombang dapat menyapu perahu hingga ke atas parapet tanggul yang telah dibangun.

"Kalau dulu bisa sampai ke rumah. Tapi sekarang sampai ke atas sini (parapet). Kami harap ada semacam pemecah ombak yang dibangun," ucap Junedi.

Junedi, seorang nelayan yang kerap beroperasi di wilayah Tambak Lorok, Semarang, sedang memperbaiki mesin kapalnya.Kompas.com / Dani Prabowo Junedi, seorang nelayan yang kerap beroperasi di wilayah Tambak Lorok, Semarang, sedang memperbaiki mesin kapalnya.



Close Ads X