Setahun Tak Boros, Anak Milenial Bisa Cicil Apartemen Rp 300 Jutaan

Kompas.com - 19/02/2019, 10:05 WIB
Untuk secangkir kopi di kafe anak milineal bisa mengeluarkan uang sedikitnya Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu. Jika sebulan saja, lanjut dia, minimal sudah mencapai Rp 1,5 juta yang terbuang begitu saja.Dok SouthCity Untuk secangkir kopi di kafe anak milineal bisa mengeluarkan uang sedikitnya Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu. Jika sebulan saja, lanjut dia, minimal sudah mencapai Rp 1,5 juta yang terbuang begitu saja.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gaya hidup anak milenial, seperti minum kopi di kafe atau tempat-tempat pertemuan, berbelanja, sudah menjadi tren era saat ini. Hal itu karena tuntutan bersosialisasi mereka tinggi.

Direktur Utama PT Setiawan Dwi Tunggal, Peony Tang, mengatakan bahwa gaya hidup hedonis itu tidaklah salah, karena bertujuan untuk bersosialisasi dan mencari inspiras. Asalkan, lanjut dia, anak-anak mileneal bisa bijak mengelola uangnya dan tak terjebak gaya hidup yang boros.

"Pada dasarnya, mereka melakukan itu cenderung untuk menekankan pada pengalaman hidupnya, dan tidak terpikir untuk melakukan investasi untuk jangka panjang," ujar Peony, Minggu (17/2/2019).

"Mereka ingin punya pengalaman hidup berbeda sehingga mereka mengutamakan traveling dan sosialisasi sebagai tujuan hidupnya saat ini," tambah Peony.

Unruk iru, Peony kembali mengingatkan hasil survei Ameritrade yang dilansir dari CNBC Make It yang menyebutkan, bahwa gaya hidup milenial seperti traveling dan liburan umumnya dijadikan prioritas. Dari situm kegiatan selanjutnya adalah makan malam di luar atau melakukan hal lain yang menyebabkan pengeluaran mereka tinggi.

Untuk secangkir kopi di kafe, Peony mengingatkan, anak milineal bisa mengeluarkan uang sedikitnya Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu. Jika sebulan saja, lanjut dia, minimal sudah mencapai Rp 1,5 juta yang terbuang begitu saja.

"Padahal, kalau dihitung lagi, selama setahun itu anak milenial sudah terhitung mampu membayar uang muka dan mencicil apartemen yang harganya Rp 300 jutaan," kata Peony.

Selain gaya hidup, lanjut Peony, yang menjadi kendala kaum milenial untuk memiliki properti adalah terus naiknya harga properti. Properti menjadi aset yang tak pernah turun, apalagi jika fasilitas dan lokasinya bagus.

"Yang ada, harga terus naik dan makin tak terjangkau kantong mereka yang tak terjaga," ucapnya. 

Terkait fenomena semacam itulah, menurut Peony, perusahaannya menyiapkan program khusus untuk bisa meringankan anak milenial memiliki apartemen, yakni program "Nabung DP" untuk membeli hunian di The Parc Apartemen.

Stevie Faverius Jaya, Menurut Associate Director SouthCity, menambahkan bahwa melalui program ini anak milenial bisa mencicil uang muka 20 persen atau sekitar Rp3,3 jutaan hingga 24 kali. Setelah itu mereka bisa mencicil kredit sebesar Rp3 jutaan per bulan.

"Artinya, dalam sehari itu mereka hanya perlu menyisakan Rp 99,000 per hari, harusnya itu bisa dilakukan kalau minum kopi yang mahal saja bisa," papar Stevie.

The Parc merupakan hunian vertikal seluas 1,5 hektar di dalam 5,5 hektar kawasan SouthCity. Sejak dipasarkan pada Juni 2018 lalu, apartemen yang kembangkan oleh PT Setiawan Dwi Tunggal ini sudah terjual sekitar 30-40 persen dari total 392 unit di tower pertama.

"Tahun ini kami targetkan penjualan sampai 70 persen dan selanjutnya kami akan memasarkan tower kedua," kata Stevie.

Dia optimistis, kehadiran proyek apartemen dengan investasi sekitar Rp900 miliar ini dapat memberi angin segar bagi para investor maupun end user, terutama anak-anak milenial. Proyek ini terdiri dari tiga tower setinggi 13 lantai yang direncanakan sebanyak 1.701 unit. Tower pertama direncanakan mulai dibangun pada akhir 2019 mulai tipe studio sampai dua kamar tidur dengan harga mulai Rp325 juta sampai Rp700 jutaan per unit.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief

Close Ads X