Debitur KPR Milenial Melonjak, Pengembang Wajib Sajikan Data Valid

Kompas.com - 24/01/2019, 23:00 WIB
Ilustrasi milenial FREEPIKIlustrasi milenial

JAKARTA, KOMPAS.com - Milenial merupakan pangsa pasar potensial yang paling menjanjikan, dan  dibidik para pengembang dalam memasarkan produk properti mereka.

Data Departemen Makro Prudensial Bank Indonesia menunjukkan, terjadi perubahan perilaku debitur kredit pemilikan rumah (KPR) di beberapa tipe.

Debitur usia muda atau milenial dengan rentang 26-35 tahun terlihat mendominasi KPR sejak 2014 hingga 2018.

Misalnya, rumah tapak tipe 22-70 meter persegi, pada 2014 lalu hanya tercatat 35 persen. Dalam kurun waktu empat tahun tumbuh hingga 45 persen.

Kondisi yang sama terlihat pada pemohon rusun, flat atau apartemen, terjadi lonjakan hingga 35 persen bila dibandingkan dengan 2014 yang hanya 30 persen.

Meski sempat mengalami penurunan pada rentang tahun tersebut, namun BI tetap mencatat tren pertumbuhan.

Baca juga: Milenial, Ini Cara Mudah Punya Rumah

Adapun pangsa KPR yang dimiliki oleh debitur usia 36-45 tahun cenderung mengalami penurunan sejak tahun 2014 hingga tahun lalu.

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung mengatakan, tingginya pangsa pasar milenial harus dimanfaatkan dengan baik oleh para pengembang. Karena itu, memahami karakteristik generasi ini menjadi kunci keberhasilan dalam penjualan properti.

Menurut dia, generasi milenial memiliki karakter berbeda dengan baby boomers dalam membeli properti. Dulu, orang datang ke developer untuk mencari rekomendasi atas properti yang paling tepat.

"Sekarang, mereka datang untuk memvalidasi informasi. Ini bahayanya konsumen sekarang, mereka datang untuk ngetes," kata Untung dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Sama seperti kelompok baby boomers, generasi milenial sebenarnya juga memiliki kesadaran untuk membeli properti.

Karena itu, biasanya mereka akan mencari tahu terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan properti yang hendak dicari.

Misalnya, harga tanah di wilayah tersebut, kualitas bangunan, harga hunian pasaran, dan lain sebagainya. Informasi tersebut, biasanya ditelusuri secara daring melalui internet.

Untung menuturkan, bila jawaban dari pengembang dinilai cukup masuk akal meski terjadi sedikit perbedaan atas informasi yang mereka dapatkan, bisa saja penjualan terjadi.

Namun, penjualan bisa batal bila keterangan yang diberikan dinilai melenceng terlalu jauh.

"Jadi, penjualan ini tidak terjadi dalam satu detik. Tapi ada prosesnya, ada micro momment untuk membuat orang jadi mau beli," pungkas Untung.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X