Gunung Penanggungan, Area Suci Sejak Zaman Pra-Majapahit

Kompas.com - 18/01/2019, 21:00 WIB
Candi Belahan, salah satu situs di Gunung Penanggungan.Indonesia Discovery Candi Belahan, salah satu situs di Gunung Penanggungan.

KOMPAS.com - Gunung Penanggungan yang berada di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan telah lama dikenal sebagai "surga" benda peninggalan purbakala.

Area yang sudah terdaftar sebagai kawasan cagar budaya ini populer karena dijadikan tempat suci sejak zaman pra hingga akhir Majapahit.

Di tempat ini banyak ditemukan bangunan suci yang dibangun mulai dari abad ke-10 hingga akhir Majapahit pada abad ke-16.

Baca juga: Sawahlunto, Kawasan Cagar Budaya, dan Orang-orang Rantai

Di Gunung Penanggungan, terdapat situs Gapura Jedong yang berasal dari tahun 926 Masehi, pemandian Jolotundo peninggalan abad ke-10, situs Belahan berupa gapura dan pemandian kuno.

Adapula Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, Candi Selokelir, dan sebagainya.

Di tempat ini ditemukan pula punden berundak, tempat pertapaan, goa, serta situs-situs lain.

Hal ini dapat dilihat dari sejumlah inskripsi yang memuat angka tahun. Dari beberapa inkripsi tersebut, terlihat pembangunan bangunan suci di kawasan ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Dyah Krtawijaya (Bhre Tumapel).

Ini artinya selama sekitar enam abad, wilayah Penanggungan menjadi tempat ritual keagamaan.

Salah satu hal yang menarik dari situs ini adalah kepercayaan megalitik atau kepercayaan asli Majapahit yang tersingkir unsur agama Hindu-Buddha, muncul kembali dalam bentuk lain yakni bangunan candi.

Susunan ini makin ke belakang makin tinggi. Sementara pada bagian atas candi terdapat bangunan utama yang dianggap bagian palig suci.

Konsep candi yang ada di Penanggungan adalah punden berundak atau bangunan yang disusun atas teras-teras.

Bagian ini bisa berbentuk mirip candi seperti yang terdapat pada Candi Gajah Mungkur.

Namun bisa juga dirancang dengan bentuk tiga bangunan seperti kursi dengan sandaran berbentuk mirip tanda kurung kurawal.

Demikian pula dengan arcanya, banyak yang digambarkan sangat hidup lengkap dengan aksesoris, ada pula yang digambarkan sederhana dan cenderung kaku.

Variasi tersebut menunjukkan perbedaan waktu pendirian bangunan.

Hal inilah yang membedakan bentuk candi di Penanggungan dengan candi-candi lainnya di Jawa Timur.




Close Ads X