Metode Pembayaran Tunai Bertahap Dominasi Pembelian Apartemen

Kompas.com - 09/01/2019, 23:17 WIB
Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen

JAKARTA, KOMPAS.com - Cara pembayaran melalui cash installment atau tunai bertahap tetap menjadi pilihan sebagian besar pembeli unit apartemen di Jakarta pada 2018.

"Jumlahnya mendominasi di angka 47 persen, lebih tinggi dibanding mortgage (kredit) dan hard cash (tunai keras)," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan mengenai pasar properti 2018, di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Jenis pembayaran secara kredit menempati urutan kedua, yakni di angka 37 persen, sedangkan melalui tunai keras berada di posisi ketiga, yaitu 16 persen.

Baca juga: Permintaan Seret, Apartemen Kosong di Jakarta 60.949 Unit

Ferry menambahkan, meski tahun 2018 masih unggul, cara tunai bertahap mengalami tren penurunan dari riset Colliers tahun 2017 yang sebesar 52 persen, dan pada 2013 sebanyak 63 persen.

Kecenderungan menurun juga terjadi pada metode pembayaran tunai keras. Pada 2013, jumlahnya mencapai 21 persen, lalu pada 2017 merosot lagi menjadi 19 persen.

"Sebaliknya, tren kenaikan hanya dialami pada pembelian secara kredit. Sejumlah 16 persen terjadi pada 2013 dan 29 persen pada 2017, lalu 37 persen untuk tahun 2018. Ini menunjukkan bahwa orang semakin memilih cara pembayaran melalui kredit pemilikan apartemen," tutur Ferry.

Dia melanjutkan, permintaan apartemen masih cenderung stagnan pada tahun ini karena masyarakat masih menunggu terbentuknya pemerintahan baru setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Selain itu, potensi kenaikan suku bunga perbankan dan kemungkinan melemahnya nilai rupiah yang dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi perekonomian global.

Meski demikian, bisnis apartemen dinilai masih memiliki prospek karena beberapa peluang.

"Peluangnya adalah efek lanjutan dari relaksasi LTV dan penurunan pajak properti, yaitu PPnBm dan pajak barang sangat mewah," imbuh Ferry.

Namun, tambahnya, perlu diwaspadai juga mengenai risiko dalam bisnis apartemen, yakni banyaknya pasokan apartemen kelas menengah ke bawah dan kondisi sesudah Pilpres 2019.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X