Anak Usaha Adhi Karya Bangun 5 Tower Apartemen di Sisi LRT Ciracas

Kompas.com - 05/12/2018, 11:44 WIB
Suasana uji coba Light Rail Transit (LRT) Jakarta di Stasiun Velodrome, Jakarta, Rabu (12/9/2018). LRT rute Velodrome hingga Kelapa Gading tersebut sedang dilakukan uji coba terbatas tahap I yang berlangsung hingga 14 September 2018. MAULANA MAHARDHIKASuasana uji coba Light Rail Transit (LRT) Jakarta di Stasiun Velodrome, Jakarta, Rabu (12/9/2018). LRT rute Velodrome hingga Kelapa Gading tersebut sedang dilakukan uji coba terbatas tahap I yang berlangsung hingga 14 September 2018.
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat properti David Cornelis mengatakan pertumbuhan penduduk yang cepat telah meningkatkan mobilitas orang yang mengarah ke lalu lintas kemacetan.

Transit-oriented development (TOD) menjadi pendekatan perencanaan yang diadopsi banyak kota. Konsep TOD dianggap menguntungkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama dengan adanya pengembangan stasiun transit massal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2015 lalu sudah mencapai 10,18 juta jiwa. Setahun kemudian angka itu meningkat menjadi 10,28 juta jiwa, dan bertambah lagi menjadi 10,37 juta jiwa pada 2017.

Jumlah penduduk tersebut, masih bertambah setiap harinya, dengan keberadaan warga kawasan sisi luar Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang, yang tinggal di kawasan luar tersebut, namun memiliki pekerjaan di Jakarta.

Melansir data Biro Pusat Statistik DKI Jakarta di tahun 2016, kendaraan yang berada di Jakarta mencapai 18 juta unit. Dengan total panjang jalan di DKI Jakarta yang mencapai sekitar 7000 km, dampak langsung yang terjadi adalah terjadinya kemacetan yang terjadi hampir setiap hari.

Kerugian akibat kemacetan tersebut diperkirakan mencapai Rp 6 triliun setiap tahunnya. Pemerintah dengan langkah strategisnya, yaitu membangun sistem transportasi massal, baik itu MRT, LRT maupun BRT, diharapkan akan menjadi solusi jangka panjang atas problema kemacetan tersebut.

"Untuk itu, pengembangan TOD ke depannya adalah mengintensifkan rasio luas lantai, menambahkan ruang hijau, dan meningkatkan desain yang berorientasi pada transit dan pejalan kaki," kata David dalam keterangan tertulis, Rabu (5/12/2018).

David mengatakan, pola distribusi TOD di wilayah-wilayah kota satelit memiliki hubungan kuat dengan tingkat perkembangan perkotaan dan ekonomi daerah. Untuk itulah, pembangunan dan perencanaan TOD harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena akan tidak secara otomatis mengikuti pola pembangunan transportasi umum massal.

Salah satu pengembang yang jeli melihat peluang mengembangkan kawasan properti berbasis TOD itu adalah PT Adhi Commuter Properti, anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Adhi Commuter saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek dengan konsep TOD yang berlokasi menyatu dengan stasiun LRT Jabodebek.

Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti, Amrozi Hamidi, mengatakan Adhi Commuter mengembangkan hunian berbasis TOD untuk menjawab kebutuhan akan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal. Ke depan hunian berbasis transportasi seperti TOD dapat menjadi pilihan masyarakat.

"Terutama kalau kita berkaca pada banyak negara lain, terutama hunian untuk masyarakat kaum sub-urban. Kenapa, karena praktis. Hunian seperti ini kan terintegrasi dengan sistem transportasi massal yang bisa memberikan kemudahan mobilitas penghuninya," kata Amrozi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X