Potensi Ekonomi Bagus, Tol Trans-Sumatera Dijamin Kementerian Keuangan - Kompas.com

Potensi Ekonomi Bagus, Tol Trans-Sumatera Dijamin Kementerian Keuangan

Kompas.com - 02/11/2018, 18:00 WIB
Tol Trans-Sumatera di Lampung.Dokumentasi Hutama Karya Tol Trans-Sumatera di Lampung.

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Hutama Karya (Persero) telah memperoleh penjaminan finansial dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk membiayai pembangunan jaringan Jalan Tol Trans-Sumatera.

Dana yang dikucurkan sebesar Rp 81 triliun untuk pembiayaan delapan ruas tol prioritas dari 24 ruas tol yang direncanakan beroperasi pada 2019.

Ada tiga ruas tol yang mendapat pembiayaan terlebih dahulu, yaitu Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, dan Bakauheni-Terbanggi Besar. 

Bantuan keuangan ini merupakan bentuk dukungan Kemenkeu terhadap penugasan yang diberikan oleh pemerintah kepada Hutama Karya dalam pembangunan Tol Trans-Sumatera mulai dari perencanaan, pembangunan, dan operasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014.

Baca juga: Optimalisasi Tran Sumatera, HK Ciptakan Kawasan Pertumbuhan Baru

Sebab, menurut hasil survei, lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan di Tol Trans-Sumatera jumlahnya kurang mencukupi pengembalian investasi.

Namun, Kemenkeu dan Hutama Karya optimistis bahwa dengan beroperasinya sejumlah ruas tersebut bisa meningkatkan LHR di sana.

“Tol Trans-Sumatera beda dengan di Jawa yang LHR-nya tinggi. Penjaminan dari Kemenkeu itu karena sebenarnya perekonomian daerah sana bagus, tapi secara operasional, kondisi finansial tol di sana belum memadai, makanya pakai penugasan, bukan tender,” ungkap Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Bintang Perbowo kepada Kompas.com, Kamis (1/11/2018) di Jakarta.

Dia menambahkan, kurang bagusnya tingkat LHR itulah yang menyebabkan perusahaan swasta dan BUMN lain masih enggan untuk membangun jalan tol di sana. Maka dari itu, Kemenkeu memberi penjaminan  keuangan kepada Hutama Karya

“Swasta enggak mau karena lihat itu (LHR rendah), makanya diberi jaminan atas utang yang timbul untuk pembangunan di sana,” sambung Bintang.

Awalnya masyarakat setempat merasa keberatan atas kehadiran beberapa ruas tol di Sumatera, terutama dari segi biaya.

Baca juga: Tol Trans Sumatera, Antara Sirip Ikan dan Jalur Distribusi

Namun, seiring realisasi pembangunan, mereka sadar bahwa jalan tol berperan penting untuk mempersingkat waktu dan jarak tempuh dari satu daerah ke daerah lain.

Bintang memberi contoh ruas Tol Medan-Binjai. Semula warga di sekitarnya enggan untuk membayar sesuai tarif tol yang ditentukan.

“Misalnya di Medan-Binjai, awalnya siapa yang mau bayar di tol ini. Ternyata mereka perlu juga untuk angkutan logistik supaya lebih cepat,” ucapnya.

Kebutuhan akan jalan tol itu semakin lama kian meningkat karena masyarakat di sana sudah merasakan manfaatnya untuk mobilitas orang dan barang dari satu tempat ke tempat lain dengan biaya yang lebih murah.

Contoh lain, imbuh Bintang, yakni dari Bakauheni ke Palembang yang sebelum ada jalan tol waktu tempuhnya mencapai 12 jam.

Nantinya setelah tol di sana selesai dibangun pada Aprl 2019, diperkirakan waktu tempuh menjadi lebih singkat, yaitu 5 atau 6 jam.

“Tentunya logistik lebih cepat sampai ke tujuan, untuk jangka panjang juga jadi lebih murah. Di samping itu jalan terluar itu akan hidup, makanya di rest area kami kerja sama dengan swasta dan pihak lain perumahan, sekolah, industri ringan, dan pariwisata,” pungkasnya.



Close Ads X