Sepenggal Cerita di Balik Patung Garuda Wisnu Kencana - Kompas.com

Sepenggal Cerita di Balik Patung Garuda Wisnu Kencana

Kompas.com - 12/10/2018, 21:30 WIB
Penampakan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) dari udara usai diresmikan di Kuta Selatan, Bali, Minggu (25/09/2018). Patung setinggi 121 meter dengan lebar 64 meter tersebut resmi diresmikan dan menjadi patung tertinggi ketiga di dunia.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOB Penampakan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) dari udara usai diresmikan di Kuta Selatan, Bali, Minggu (25/09/2018). Patung setinggi 121 meter dengan lebar 64 meter tersebut resmi diresmikan dan menjadi patung tertinggi ketiga di dunia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana ( GWK) di kawasan GWK Cultural Park, Bukit Ungasan,  Bali, akhirnya selesai setelah dikerjakan selama 28 tahun.

Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Sabtu (22/9/2018) sebagai tanda rampungnya pembangunan patung tersebut.

Keberadaan patung itu tidak bisa lepas dari Nyoman Nuarta sebagai seniman atau pematung yang memiliki ide mendirikan patung GWK.

Baca juga: 3 Ruangan di Patung GWK yang Wajib Dikunjungi

Nuarta mengisahkan, patung GWK dibuat untuk menjadi simbol dunia pariwisata, sekaligus melestarikan tradisi budaya Bali.

"GWK diciptakan untuk menjadi ikon pariwisata dan budaya Bali karena pariwisata Bali itu menjual warisan budaya yang masih aktif," ujar Nuarta saat ditemui Kompas.com, di Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Menurut Nuarta, pariwisata Indonesia masih kalah dibanding negara lain di Asia, misalnya Thailand. Padahal, warna budaya Nusantara sebenarnya lebih bagus dan canggih.

Suasana dekat Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di GWK Cultural Park, Kuta Selatan, Bali, Minggu (23/09/2018). Terdapat 30 lantai yang ada di dalam tubuh Patung GWK, bagi pengunjung yang ingin berwisata ke dalam tubuh Patung GWK ini untuk sementara belum dibuka untuk umum.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Suasana dekat Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di GWK Cultural Park, Kuta Selatan, Bali, Minggu (23/09/2018). Terdapat 30 lantai yang ada di dalam tubuh Patung GWK, bagi pengunjung yang ingin berwisata ke dalam tubuh Patung GWK ini untuk sementara belum dibuka untuk umum.
Seharusnya budaya Indonesia bisa dimanfaatkan untuk menarik wisatawan berkunjung yang pada gilirannya dapat menambah devisa (pemasukan) negara.

Sayangnya, kata Nuarta, bangsa Indonesia kurang menghargai budayanya sendiri. 

Itulah yang membuat dia ingin menciptakan suatu karya seni yang bisa memperlihatkan keindahan dan kecanggihan kultur Tanah Air, sekaligus melestarikannya.

"Saya mengharapkan patung GWK bisa menjadi tempat untuk menunjukkan kecanggihan budaya kita, misalnya buat event besar semacam olimpiade seni kelas dunia," harap dia.

Patung GWK sejatinya tengara yang dibangun di atas lahan yang dulu merupakan milik Nuarta. Dia menyebutnya sebagai aksen land art  atau seni lahan.

Patung itu berdiri di atas tanah berkapur yang luasnya sekitar 67 hektar.  

Baca juga: Menguak Ruangan Tersembunyi di Tubuh Patung GWK

Sensasi menikmati indahnya kerangka Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Galeri pandang lantai 23 di dalam tubuh Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di GWK Cultural Park, Kuta Selatan, Bali, Minggu (23/09/2018). Terdapat 30 lantai yang ada di dalam tubuh Patung GWK, bagi pengunjung yang ingin berwisata ke dalam tubuh Patung GWK ini untuk sementara belum dibuka untuk umum.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Sensasi menikmati indahnya kerangka Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Galeri pandang lantai 23 di dalam tubuh Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di GWK Cultural Park, Kuta Selatan, Bali, Minggu (23/09/2018). Terdapat 30 lantai yang ada di dalam tubuh Patung GWK, bagi pengunjung yang ingin berwisata ke dalam tubuh Patung GWK ini untuk sementara belum dibuka untuk umum.
"Patung sebagai aksen, ada land art atau seni lahan di tanah berkapur yang dipotong-potong sehingga kelihatan artistik dan unik sesuai budaya Bali. Makanya ada patung itu. Kalau semuanya sama, ya kurang kena," jelasnya.

Biaya yang dibutuhkan untuk membangun patung GWK, lebih kurang Rp 150 miliar. Dana itu diperoleh dari bantuan berbagai pihak dan kerja sama dengan pengembang swasta, yaitu PT Alam Sutera Realty Tbk.

Dia mengaku hanya berperan membuat kulit patung, sedangkan untuk bagian lain dikerjakan oleh pihak yang berbeda.

"Saya cuma kulit patungnya, untuk fondasi, pedestal, dan struktur itu lain," ucapnya.

Dari segi bentuk, saat ini sudah selesai 100 persen. Namun, masih ada pengerjaan beberapa bagian yang harus diselesaikan dan diharapkan rampung pada pertengahan Oktober ini.

Patung GWK berdiri setinggi 121 meter dengan lebar 64 meter, dan menjadi patung tertinggi ketiga di dunia.



Close Ads X