Stadion Sriwedari, "Venue" Cikal Bakal Asian Para Games - Kompas.com

Stadion Sriwedari, "Venue" Cikal Bakal Asian Para Games

Kompas.com - 07/10/2018, 15:00 WIB
Atlet balap kursi roda pelatnas Asean Para Games Zaenal Arifin (depan) dan Doni Yulianto (belakang) berlatih di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Senin (8/5). Kontingen Indonesia ditargetkan merebut juara umum Asean Para Games, Kuala Lumpur, Malaysia, namun pelaksanaan pelatnas masih menghadapi sejumlah kendala.

Kompas/Erwin Edhi Prasetya (RWN)
08-05-2017ERWIN EDHI PRASETYA Atlet balap kursi roda pelatnas Asean Para Games Zaenal Arifin (depan) dan Doni Yulianto (belakang) berlatih di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Senin (8/5). Kontingen Indonesia ditargetkan merebut juara umum Asean Para Games, Kuala Lumpur, Malaysia, namun pelaksanaan pelatnas masih menghadapi sejumlah kendala. Kompas/Erwin Edhi Prasetya (RWN) 08-05-2017

KOMPAS.com - Upacara Pembukaan Asian Para Games 2018 telah digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (6/10/2018) malam.

Sebelumnya, Indonesia pernah menyelenggarakan acara serupa pada 1986, yaitu Far East and South Pasific Games for the Disabled (FESPIC Games).

FESPIC Games merupakan pesta olahraga khusus untuk atlet difabel di kawasan Asia Pasifik.

Baca juga: Saat Asian Para Games, Lalu Lintas Atlet Jadi Prioritas

Acara ini berlangsung dari tanggal 1 Agustus sampai 7 September 1986. Pada tahun 2006, FESPIC Games di Asia berganti nama menjadi Asian Para Games, seiring dengan berakhirnya penyelenggaraan acara ini di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pelaksanaan acara olahraga ini kini berlangsung setelah perhelatan Asian Games.

Perhelatan FESPIC Games IV di Indonesia diselenggarakan di Kota Surakarta. Pada saat itu, Stadion Sriwedari dipilih sebagai lokasi pembukaan.

Bangunan stadion

Selain sebagai lokasi pembukaan FESPIC Games, Stadion Sriwedari juga pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada tahun 1948.

Stadion ini juga merupakan lapangan olahraga pertama yang dibangun oleh bangsa Indonesia. Desain bangunannya dirancang oleh arsitek Zeylmans, sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh R. Ng. Tjondrodiprodjo, dan selesai pada 1933.

Bangunan stadion sendiri dirancang dengan bentuk oval. Dinding stadion terbuat dari batu. Pada bagian bawah lapangan dibangun pipa-pipa air dengan diameter 10 sentimeter.

Konstruksi ini memungkinkan air hujan langsung terserap dan lansung dialirkan ke Kali Larangan di sebelah utara stadion.

Pada bagian atasnya diberi lapisan ijuk, batu koral, dan pasir untuk menutupi keberadaan pipa. Baru setelah itu diberi lapisan rumput agar bisa digunakan sebagai lapangan sepak bola.

Seperti dikutip dari Harian Kompas, 9 September 1983, stadion ini juga dilengkapi dengan 24 buah lampu sorot berkekuatan 1.000 watt. Karenanya, tempat ini merupakan stadion pertama yang dapat dipakai pada malam hari. 

Presiden Soeharto, Minggu (31 Agustus 1986) pagi, di Sriwedari, Solo, membuka resmi Pekan Olahraga penyandang cacat se-Asia Timur dan Pasifik (Fespic Games). Presiden didampingi Ny Tien Soeharto, tokoh-tokoh olahraga dan pemerintahan seperti Mensesneg Sudharmono, Menpora Abdul Gafur, Sri Sultan Hamekubuwono IX. Sanneng Hanafi (45) atlet dari Indoensia, menyalakan api kaldron pekan olahraga ini, diiringi tepuk tangan 11.000 penonton yang memadati stadion. Ardus M Sawega Presiden Soeharto, Minggu (31 Agustus 1986) pagi, di Sriwedari, Solo, membuka resmi Pekan Olahraga penyandang cacat se-Asia Timur dan Pasifik (Fespic Games). Presiden didampingi Ny Tien Soeharto, tokoh-tokoh olahraga dan pemerintahan seperti Mensesneg Sudharmono, Menpora Abdul Gafur, Sri Sultan Hamekubuwono IX. Sanneng Hanafi (45) atlet dari Indoensia, menyalakan api kaldron pekan olahraga ini, diiringi tepuk tangan 11.000 penonton yang memadati stadion.
Pemugaran

Sebagai tempat pembukaan FESPIC Games IV, pemerintah saat itu melakukan renovasi besar-besaran bangunan stadion.

Harian Kompas, 3 September 1983 memberitakan, biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk merenovasi Stadion Sriwedari pada waktu itu sebesar Rp 858 juta. Selain Stadion Sriwedari, Gelora Manahan juga turut dipugar.

Pemugaran ini membuat Stadion Sriwedari dilengkapi dengan 400 buah lampu, serta dapat menampung hingga 12.000 penonton.

Pemugaran stadion dilakukan di berbagai sisi bangunan. Salah satunya ada pada bagian tembok utara stadion yang hampir roboh, dan pembuatan tribun untuk mengganti bagian penonton yang berdiri.

Tribun VIP stadion bahkan menyediakan tempat khusus bagi 45 orang penyandang disabilitas. Selain itu, sebanyak 75 orang bisa ditampung i tribun VIP tertutup dan 220 orang di tribun terbuka.

Toilet stadion pada masa itu dibangun seluas 46 meter, khusus untuk penyandang disabilitas.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X