Okupansi Perkantoran Diprediksi Bangkit Usai Pilpres 2019

Kompas.com - 03/10/2018, 20:50 WIB
Ilustrasi perkantoranKompas.com / Dani Prabowo Ilustrasi perkantoran

JAKARTA, KOMPAS.com - Situasi politik 2019 yang lebih stabil diperkirakan akan membuat tingkat okupansi ruang perkantoran di Jakarta sedikit terkatrol. Terutama pasca Pemilihan Presiden 2019 yang akan diselenggarakan pada April mendatang.

Saat ini, banyak perusahaan masih menahan diri untuk menyewa ruang perkantoran baru baik di kawasan pusat bisnis (CBD) maupun di luar kawasan tersebut (non-CBD). Alhasil tingkat okupansi ruang perkantoran pun menunjukkan kondisi yang tidak cukup baik.

Riset Colliers International Indonesia menunjukkan, akumulasi ruang perkantoran baru pada 2017-2018 di kawasan CBD Jakarta mencapai 960.000 meter persegi. Namun, dari jumlah tersebut yang sudah terserap baru 66 persen atau sekitar 630.000 meter persegi.

Sementara, dari total ruang yang telah terserap, hanya 52 persen di antaranya yang benar-benar sudah ditempati hingga kuartal III-2018.

Sedangkan di luar kawasan CBD, kondisi tak jauh berbeda juga ditunjukkan pada sektor perkantoran grade A, di mana tingkat okupansinya hanya sekitar 50-60 persen.

"Tahun ini (2019) adalah tahun yang penuh dengan sentimen, yang menjadi faktor non teknis. Karena sentimen kondisi politik, kondisi ekonomi yang sekarang, juga mempengharuhi kebiasaan investor yang akan investasi atau mengembangkan propertinya," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Ia menambahkan, faktor lain yang turut mendorong tingkat okupansi yaitu jumlah pasokan ruang perkantoran baru yang turun.

Menurut Ferry, akumulasi ruang perkantoran baru di kawasan CBD sepanjang tahun ini hingga akhir 2018 diperkirakan mencapai 600.000 meter persegi.

Sementara di kawasan non-CBD, supply diperkirakan hanya di kisaran 175.000 meter persegi.

Adapun untuk tahun depan, diperkirakan terjadi penurunan supply yang cukup signifikan untuk kawasan CBD.

"Pasokan tertinggi hanya sekitar 300 ribuan (meter persegi). Kalau lihat sekarang, okupansi masih akan tetap tinggi sekitar 80 persenan," kata dia.

Ferry menyarankan pelaku usaha perkantoran dapat lebih fleksibel dalam menawarkan harga sewa kepada calon penyewa. Hal ini untuk menjaga minat mereka untuk menyewa ruang perkantoran yang ditawarkan.

Pada kuartal III ini, harga sewa perkantoran yang ditawarkan di kawasan CBD berada di kisaran Rp 367.947 per meter persegi per bulan. Sementara di luar kawasan tersebut berada pada kisaran Rp 226.319 per meter persegi per bulan.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X