Meski Rupiah Loyo, Proyek Brantas Abipraya Tetap Jalan - Kompas.com

Meski Rupiah Loyo, Proyek Brantas Abipraya Tetap Jalan

Kompas.com - 13/09/2018, 05:57 WIB
PT Brantas Abipraya di Jalan DI Pandjaitan, Jakarta TimurKompas.com/Robertus Belarminus PT Brantas Abipraya di Jalan DI Pandjaitan, Jakarta Timur

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelemahan nilai rupiah terhadap dollar AS belakangan ini memengaruhi kondisi perekonomian di Indonesia, termasuk sektor konstruksi.

Salah satu usaha yang dilakukan perusahaan penyedia jasa konstruksi untuk menghadapi keadaan ini adalah melakukan penghitungan ulang terhadap proyek yang sedang dikerjakan.

Hal itu juga dilakukan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) yang selama ini dikenal sebagai pelaksana pembangunan bendungan yang sekarang merambah ke sektor properti.

Direktur Operasi II PT Brantas Abipraya Widyo Praseno mengatakan, saat ini perusahaan tengah mengerjakan kontrak yang bersifat single year dan multiyears. Sejauh ini proyek-proyek tersebut tetap berjalan seperti biasa.

Baca juga: 23 Negara Ikuti Pameran Konstruksi di Indonesia

“Kontrak tetap berjalan, kontrak kami ada yang single year dan multiyears. Kalau multiyears kami ada eskalasi, kalau single years harganya tetap,” kata Widyo Praseno saat dijumpai dalam suatu diskusi, Rabu (12/9/2018) di Jakarta.

Namun, saat ditanya mengenai nilai kontrak tersebut, Widyo enggan menyebutkan angkanya. Dia berujar, proyek multiyears biasanya berupa pembangunan bendungan atau bangunan yang menyangkut pengairan.

Sebagian besar merupakan proyek pemerintah pusat yang memiliki jangka waktu pelaksanaan selama tiga sampai empat tahun.

“Kalau yang dari pemerintah untuk proyek bendungan atau sumber daya air itu banyak proyek multiyears, bisa tiga sampai empat tahun,” ujar Widyo.

Ada pula kontrak lain yang berasal dari badan usaha milik negara (BUMN) dan pemerintah daerah. Sejauh ini, ucapnya, pengerjaan dan pembiayaan proyek itu masih lancar.

Meski demikian, Widyo berusaha mengurangi risiko kenaikan jumlah biaya sehubungan dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dollar AS.

“Kalau kontrak yang lain dari BUMN atau pemda masih lancar, hanya kami harus lakukan mitigasi risiko terkait dengan fluktuasi dollar yang cukup tinggi,” tambahnya.

Widyo mengatakan, biasanya perubahan harga akan berdampak pada material bangunan, misalnya besi beton, serta pekerjaan yang bersifat mekanis dan kelistrikan.

Maka dari itu, Brantas Abipraya akan melakukan efisiensi biaya dan percepatan pembangunan untuk meminimalisasi bertambahnya pengeluaran pada suatu proyek.

Meski demikian, Widyo menjamin anggaran akan tetap sesuai dengan nilai kontrak yang sudah berjalan dan sesuai kesepakatan.

Revisi anggaran bisa saja dilakukan apabila ada gejolak ekonomi yang sangat terasa sehingga pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan moneter.

 

 


Komentar
Close Ads X