Patung GWK Tahan Gempa hingga Magnitudo 8 - Kompas.com

Patung GWK Tahan Gempa hingga Magnitudo 8

Kompas.com - 09/08/2018, 16:57 WIB
Seniman menampilkan Tari Sekar Jagat saat upacara Melaspas atau penyucian Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Bali, Rabu (8/8/2018). Kawasan patung GWK tersebut akan digunakan sebagai lokasi gala dinner menyambut para delegasi Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia pada bulan Oktober mendatang. ANTARA FOTO/Wira Suryantala Seniman menampilkan Tari Sekar Jagat saat upacara Melaspas atau penyucian Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Bali, Rabu (8/8/2018). Kawasan patung GWK tersebut akan digunakan sebagai lokasi gala dinner menyambut para delegasi Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia pada bulan Oktober mendatang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Garuda Wisnu Kencana ( GWK) yang menjulang di ketinggian total 121 meter sudah selesai dibangun.

Patung yang membutuhkan waktu 28 tahun untuk penyelesaiannya ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 60 hektar ini sudah memiliki standar keamanan, khususnya saat terjadi gempa.

Bahkan menurut I Nyoman Nuarta, seniman penggagas pembangunan GWK, patung ini tahan gempa hingga magnitudo 8.

Baca juga: Berita Penting: Patung GWK, Bakal Tertinggi Kedua di Dunia

“Kalau nggak salah bertahan sampai 8 SR. Kemarin tidak ada dampak apa-apa terhadap GWK,” ujar I Nyoman Nuarta, seniman penggagas patung GWK, kepada Kompas.com, Kamis (9/8/2018).

Nyoman menerangkan, konsep konstruksi GWK memang dia rancang sendiri. Namun untuk implementasi dan perhitungan memang menggunakan jasa ahli.

“Ini kita betul-betul pakai konsep konstruksi yang statik atau diam, dan gravitasi pertimbangannya,” ucap Nuarta.

Dia menambahkan, fondasi patung dibuat dengan menggunakan sistem raft fondation atau fondasi rakit. Sistem ini merupakan pelat beton berbentuk lebar di seluruh bagian dasar bangunan.

Penggunaan sistem fondasi ini dipilih mengingat wilayah di sekitar awalnya merupakan lokasi tambang kapur.

“Jika terjadi endapan air yang lama itu akan berbahaya. Maka dari itu memilih sistem raft. Kalau terjadi lubang akibat kapur, tetep dia ngambang seperti jembatan,” kata Nuarta.

Raft Fondation atau fondasi rakit merupakan pelat beton yang melebar. Pelat ini digunakan untuk meneruskan beban bangunan ke lapisan tanah dasar.

Fondasi ini biasa digunakan pada tanah yang memiliki daya dukung rendah, seperti tanah kapur pada wilayah dibangunnya GWK. Patung ini juga tidak duduk pada plafon, sehingga tidak membebani lantai.

“Karena berat patung kurang lebih 3000 ton, dia akan bertumpu, semua di-reduce beratnya pada cor beton,” tambah Nuarta.

Berat patung kemudian dibebankan ke fondasi. Lalu pada pertengahan patung diberi cor beton yang menjulang hingga pertengahan patung. Setelah itu, cor beton disambung dengan baja sampai ke atas.

Penambahan baja dilakukan karena menilik sifatnya, material ini memiliki tingkat elastisitas yang lebih tinggi dibanding beton. Selain itu, baja juga sangat kuat. Kombinasi baja dan beton ini agar tahan terhadap goyangan.

Penggunaan baja pada bagian inti GWK dimaksudkan agar patung ini lebih dinamis ketika tertiup angin keras.

Kekuatan patung terhadap angin kencang juga sudah dibukatikan dengan uji coba wind tunnel test, yang dilakukan di dua tempat sekaligus yakni Toronto (Kanada) dan Melbourne (Australia). Tes ini merupakan uji ketahanan suatu bangunan terhadap terpaan angin.

"Kalau ada kekuatan dari perut patung mendorong keluar, baru bisa lepas kalau ada kecepatan atau tekanan 250 knot," ucap Nuarta.



Close Ads X