Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Seru di Balik Pembuatan Peta Transportasi Massal Jakarta

Kompas.com, 27 Juli 2018, 15:37 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ) kembali menerbitkan versi baru Peta Transportasi Massal Terintegrasi Jakarta. Peta yang disajikan merupakan gabungan dari berbagai macam moda transportasi.

Salah satu anggota tim pembuat peta, Fagra Hanif, mengatakan, peta ini merupakan pertama di Indonesia yang mengombinasikan sejumlah jenis moda transportasi berbeda.

Dengan hadirnya peta transportasi terintegrasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memilih rute sesuai kebutuhan, sehingga perjalanan dan waktu tempuh menjadi lebih efektif dan efisien.

“Tanggapannya cukup baik, masyarakat tentu lebih terbantu terkait informasi rute transportasi publik modern yang ternyata jangkauannya cukup luas,” ujar Hanif saat dihubungi Kompas.com, Kamis (26/7/2018).

Siapa kira, di balik pembuatan Peta Transportasi Massal Terintegrasi Jakarta ini bukanlah para ahli kartografi.

Mereka justru berasal dari beragam latar belakang. Ada yang masih di bangku SMA, profesional dan karyawan swasta, mahasiswa, dan juga konsultan.

Namun, kendati berbeda latar belakang, mereka disatukan oleh minat yang sama, yakni kecintaan untuk membuat dunia transportasi publik di Jakarta dan kota-kota lainnya menjadi lebih baik.

Bus Royal Trans Jakarta Hanya Uji Coba Satu Hari dari Bekasi ke Plaza Senayan, Selasa (19/9/2017).KOMPAS.COM/Anggita Muslimah Bus Royal Trans Jakarta Hanya Uji Coba Satu Hari dari Bekasi ke Plaza Senayan, Selasa (19/9/2017).
Maulana Gituri, yang juga anggota FDTJ berkisah, ada delapan orang yang tergabung dalam tim kartografi. Mereka punya kapabilitas, hasrat, dan selera yang sama.

“Tim ini memiliki visi, passion, dan selera yang sama. Namun, tim yang mempunyai kapabilitas yang berbeda ini bisa saling mengisi sehingga terbentuk tim kartografi ini,” tutur Maulana.

Bersama dengan Hanif dan Adriansyah Yasin Sulaeman, tim ini kemudian menjadi cikal bakal dalam menciptakan peta transportasi publik khususnya berbasis Bus Rapid Transit (BRT) di Jakarta. 

“Yang paling seru kami membuat peta ini dari nol. Itu sekitar tahun 2016, karena belum pernah ada peta paling mutakhir terkait BRT di Jakarta,” ungkap Maulana.

Maulana yang merupakan lulusan teknik sipil ini menceritakan bagaimana dia bersama timnya harus berpanas-panasan, berpeluh di sekujur badan melakukan survei di jalanan.

Ilustrasi : Bus Trans JakartaWAWAN H PRABOWO Ilustrasi : Bus Trans Jakarta
Bahkan, ketika musim hujan tiba, tak jarang mereka kehujanan dengan kondisi pakaian kuyub di badan.

Namun, dari situlah mereka menemukan berbagai fakta mencengangkan mengenai kondisi transportasi pubik di Jakarta. 

Mulai dari halte-halte yang tidak memadai, signage yang tidak sesuai standar, kedatangan moda transportasi yang molor dari jadwal, dan lain-lain.

Tim kartografi juga harus menyisir tempat-tempat pemberhentian untuk menemukan hal unik dan informasi mengenai fasilitas pelengkap di lokasi tersebut.

"Seru survei di jalanan, apakah di sini ada bus stop, apakah tempat ini bisa diakses para penyandang disabilitas, hal-hal yang sangat detail itu ciri khas dari yang saya temukan di tim ini," tutur Maulana.

Pembuatan peta transportasi terintegrasi ini juga menyesuaikan dengan kondisi Jakarta terkini per Juli 2018. Pembuatan peta transportasi terintegrasi ini juga menyesuaikan dengan kondisi Jakarta terkini per Juli 2018.

Masalah dan tantangan yang dihadapi

Menurut Maulana, masalah yang dihadapi dalam membuat peta transportasi massal terintegrasi ini adalah kurangnya informasi mengenai perubahan rute, sehingga tim harus turun ke jalan untuk jemput bola.

Keterbukaan informasi antar instansi operator transportasi publik juga dinilai masih minim.

“Untuk Jakarta kami harus akui antar operator transportasi publik belum bersinergi dengan baik secara kelembagaan,” ungkap Maulana.

Meskipun, setiap operator transportasi seperti kereta dan BRT hingga kota-kota penyangga telah memiliki peta transportasi sendiri.

Namun hal ini menjadi tantangan ketika tim kartografi harus menggabungkan rute tersebut menjadi satu kesatuan.

“Untuk menggabungkan jadi satu merupakan problem tersendiri, sebenarnya kalau kami melakukan bersama-sama bisa kami atasi,” tutur Maulana.

Halte bus.Thinkstock Halte bus.
Kendala lain yang harus dihadapi adalah adanya perubahan rute. Riki Gusmara, anggota tim kartografi lainnya menyampaikan, setiap saat mereka harus turun ke jalan dan mencari tahu sendiri apabila terdapat perubahan rute transportasi.

“Kadang-kadang informasi tentang rute baru harus kami survei sendiri. Kami harus catat sendiri. Harus kerja ekstra buat peta ini agar lebih akurat dan bermanfaat buat orang-orang,” ujar dia.

Kurangnya minat orang Indonesia dalam membaca peta juga menjadi perhatian serius bagi tim kartografi.

Hal ini menjadi tantangan bagaimana peta yang mereka buat bisa dibaca dengan mudah oleh masyarakat.

Anggota tim kartografi FDTJ

  • Adriansyah Yasin Sulaeman (20) Spatial Development Student,
  • Fagra Hanif (24) Freelance, 
  • Maulana Gituri (25) Transport Associate,
  • Hafizh Irhamna (18) Public Policy Student,
  • Riki Gusmara (21) mahasiswa,
  • Fathiafif Mahasin (19) Urban and Regional Planning Student,
  • M. Bagas R Wijaya (24 ) Pegawai swasta,
  • Rheza Rivana

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau