Pasar Kelebihan Stok, Pendapatan Holcim Menurun - Kompas.com

Pasar Kelebihan Stok, Pendapatan Holcim Menurun

Kompas.com - 17/05/2018, 23:30 WIB
Jajaran direksi dan komisaris PT Holcim Indonesia Tbk seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di Jakarta, Kamis (17/5/2018).KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEA Jajaran direksi dan komisaris PT Holcim Indonesia Tbk seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Corporate Secretary dan Legal Affairs Director PT Holcim Indonesia Tbk Farida Helianti Sastrosatomo mengatakan, kondisi pasar semen pada 2017 mengalami kelebihan pasokan yang cukup signifikan.

Hal itu berdampak pada tekanan harga dan penurunan pendapatan perusahaan, apalagi yang memiliki nilai investasi besar.

“Sejumlah proyek infrastruktur yang dikerjakan pemerintah belum cukup menstimulasi pasar karena ternyata pasar terbesar semen berasal dari industri ritel,” ujar Helianti, Kamis (17/5/2018) di Jakarta.

Baca juga: Hadapi Persaingan, Holcim Luncurkan Dua Produk Baru

Padahal, dia menuturkan, perumahan terjangkau di Indonesia diperkirakan masih kurang 13,5 juta unit pada 2016, dan menurut laporan Bank Dunia pada Maret 2017 kekurangan tersebut bertambah 1 juta unit per tahun.

Akibatnya angka penjualan semen Holcim pada 2017 menurun menjadi Rp 9,38 triliun dari sebelumnya pada tahun 2016 sebesar Rp 9,46 triliun. 

Sementara itu, volume penjualan semen dan klinker (bahan utama pembuatan semen) domestik, meningkat 9,3 persen menjadi 10.504 juta ton pada 2017 dari 9.609 juta ton pada 2016. Peningkatan ini antara lain karena peningkatan permintaan pasar.

“Untuk volume penjualan beton turun 1,44 persen dari 1,63 meter kubik pada 2016 menjadi 1,61 juta meter kubik pada 2017. Namun, penjualan atas konstruksi lainnya meningkat dari Rp 166 miliar menjadi Rp 386 miliar,” papar Helianti.

Dia mengungkapkan, perusahaan juga mencatat kerugian bersih pada tahun 2017 sebanyak Rp 758 miliar, meningkat dibanding tahun 2016 sebesar Rp 285 miliar.

Ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu tekanan harga jual, kenaikan harga batubara, dan peningkatan beban keuangan karena kerugian nilai tukar dari pinjaman.


Close Ads X