Bangunan di Kota Besar Sudah Harus Didesain Tahan Gempa

Kompas.com - 29/01/2018, 11:12 WIB
Para pegawai di Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, berlarian menuju lapangan parkir menyelamatkan diri dari gempa Rakhmat Nur Hakim/Kompas.comPara pegawai di Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, berlarian menuju lapangan parkir menyelamatkan diri dari gempa
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahli bangunan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Iwan Suprijanto, menjelaskan bahwa bangunan teknis dalam artian bangunan bertingkat terutama di kota-kota besar seperti DKI Jakarta seharusnya sudah didesain tahan terhadap gempa sesuai zona yang berlaku.

"Apalagi di DKI sudah ada Tim Ahli Bangunan Gedung (TBIG) untuk memastikan seluruh bangunan apalagi bangunan bertingkat sudah memenuhi peraturan dan perundangan termasuk Undang-Undang Bangunan Gedung," kata Iwan, Jumat.

Iwan yang juga menjabat Direktur Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR mengatakan, struktur bangunan teknis biasanya sudah memperhitungkan 2 sampai 2,5 kali zona gempa, dengan demikian penghuni bangunan bertingkat di DKI Jakarta, apalagi bertingkat banyak  tidak perlu khawatir meskipun bangunan tersebut bergoyang saat terjadi gempa.

Menurut dia, Pemprov DKI perlu memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warganya agar tidak panik saat terjadi gempa di gedung berlantai banyak, apalagi sampai berbondong-bondong melakukan evakuasi untuk keluar dari gedung.

"Mungkin bisa meniru masyarakat Jepang, saat terjadi gempa jusru berlindung di bawah meja atau perabotan keras lainnya tujuannya agar tidak tertimpa benda keras seperti langit-langit, lampu, tutup AC, dan lain sebagainya," kata Iwan.

Iwan mengingatkan sifat struktur beton yang fleksibel membuat bangunan bergoyang, justru hal tersebut aman karena bangunan tersebut mengikuti arah gempa, yang dikhawatirkan justru interior bangunan seperti lampu, hiasan gantung, yang luput memperhitungkan zona gempa.

"Sedangkan bangunan bukan teknis banyak dijumpai pada rumah-rumah penduduk terutama di daerah yang pengendalian IMB-nya rendah sehingga wajar saat terjadi gempa kemudian banyak bangunan mengalami kerusakan," jelas Iwan.

Iwan mengatakan, pemerintah daerah yang masuk dalam zona gempa aktif seharusnya lebih ketat dalam melakukan pengawasan bangunan baik teknis maupun bukan teknis, tujuannya untuk menghindarkan terjadinya korban.

Menurut Iwan saat ini banyak inovasi konstruksi tahan gempa baik yang dikembangkan swasta maupun Litbang Bangunan Kementerian PUPR seluruhnya sudah teruji baik dari segi kekuatan maupun nilai ekonomisnya.

Salah satunya yang sudah banyak diadopsi di Provinsi Sumatra Barat dan Aceh adalah Konstruksi Sarang Laba-Laba yang patennya dipegang PT Katama, bahkan konstruksi karya anak bangsa ini sudah dikembangkan untuk penggunaan lapangan udara.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X