Pemerintah Terus Dorong Swasta Investasi Proyek Infrastruktur

Kompas.com - 08/11/2017, 16:00 WIB
Simpang Susun Lubuk Pakam Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. Jalan tol ini dirancang sepanjang 61 kilometer. Hilda B Alexander/Kompas.comSimpang Susun Lubuk Pakam Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. Jalan tol ini dirancang sepanjang 61 kilometer.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Keterlibatan swasta terus didorong guna mempercepat pembangunan infrastruktur, berdampingan dengan pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyatakan, sampai saat ini pihak swasta telah terlibat banyak dalam pembangunan infrastruktur.

Namun, Bambang menegaskan ingin mendorong pihak swasta lebih dari sekadar terlibat dalam pembangunan infrastruktur.

"Kami ingin membuat swasta naik kelas yaitu menjadi investor. Investor ini kita butuhkan 37 persen untuk memenuhi gap kebutuhan infra dalam 5 tahun ini," jelas Bambang, setelah membuka Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2017, di JCC, Rabu (8/11/2017).

Petani Wungurejo dan Tejorejo Ringinarum Kendal, saat memblokir akses jalan tol Semarang-Batang. KOMPAS.Com / foto: dok:warga Kompas.Com /Slamet Priyatin Petani Wungurejo dan Tejorejo Ringinarum Kendal, saat memblokir akses jalan tol Semarang-Batang. KOMPAS.Com / foto: dok:warga
Segala macam cara atau skema telah dibuat guna menarik investor dari kalangan swasta, seperti Public Private Partnership (PPP) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Dalam skema itu, Bambang menjelaskan kalau pemerintah siap memberikan dukungan pada sektor swasta hingga proyek infrastrukturnya selesai.

"Ini terutama untuk proyek-proyek infrastruktur yang punya nilai komerisal tapi tingkat komersial atau returnnya masih marjinal," imbuhnya.

Tak hanya skema pembiayaan KPBU, skema lainnya juga disediakan pemerintah agar sektor swasta bisa lebih terdorong menjadi investor dalam proyek infrastruktur.

Skema Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) diterapkan untuk proyek infrastruktur yang tingkat pengembaliannya tinggi.

Jembatan Brantas di Jalan Tol Jombang-Mojokerto.Dokumentasi PT Marga Harjaya Infrastruktur Jembatan Brantas di Jalan Tol Jombang-Mojokerto.
"Skema PINA menekankan kepada pembiayaan ekuitas. Kita mendorong partisipasi langsung dalam kepemilikan saham maupun instrumen, yang penting sektor swasta makin besar peranannya di infrastruktu dan bisa menutup gap tadi," ungkap Bambang.

Terkait hal tersebut, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani melihat bahwa skema pembiayaan PINA menjadi yang paling menarik karena semuanya sudah jelas, termasuk dengan risiko pembangunannya.

"PINA ini kan difokuskan pada proyek yang sudah brownfield, yang sudah jadi. Kita dari swasta melihatnya ini justru yang paling menarik, karena sudah lebih jadi proyeknya. Berarti kan semua risiko sudah terukur dan cash flow juga sudah lebih bisa kita prediksi," pungkas Rosan dalam kesempatan yang sama.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X