Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Urbanisasi Melejit Bisa Timbulkan Masalah Baru Perkotaan

Kompas.com, 6 November 2017, 20:45 WIB
Dani Prabowo

Penulis

JAKARTA, KompasProperti - Urbanisasi perkotaan akan menimbulkan persoalan baru bila pemerintah daerah tak mampu menata dampak perpindahan tersebut.

Berdasarkan data PBB pada tahun 2014, 54 persen masyarakat dunia saat ini tinggal di kota. Jumlah ini diperkirakan bakal meningkat di tahun 2050 hingga 66 persen.

Sementara, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015, hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di kota. Jumlah ini diproyeksikan naik menjadi 67 persen pada tahun 2035.

Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR Rido Matari Ichwan mengatakan, diperlukan kemampuan manajemen perkotaan yang memadai guna memberikan pelayanan yang lebih andal kepada masyarakat.

"Hal ini sekaligus untuk merespon tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks, baik dalam konteks pelayanan internal maupun pelayanan eksternal sebagai network cities," kata Rido saat Pemeran Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2017 di Kantor Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Senin (6/11/2017).

Seiring meningkatnya angka urbanisasi, diperlukan pengembangan kawasan yang memadai. Mulai dari aspek infrastruktur, pelayanan dasar, kecukupan air, pangan dan energi, perumahan layak huni, kesehatan, lapangan pekerjaan, hingga ruang terbuka hijau.

Bila hal itu tidak dipenuhi, urbanisasi dikhawatirkan justru menimbulkan masalah baru yakni timbulnya masyarakat miskin baru di perkotaan.

Imbasnya, dikhawatirkan justru akan mencuat persoalan sosial seperti tumbuhnya kawasan kumuh baru, degradasi lingkungan, meningkatnnya kesenjangan sosial, hingga kriminalitas.

"Dalam kaitan tersebut, penting untuk ditekankan bahwa kota-kota Indonesia masa depan yang kita tuju adalah kota layak huni, cerdas dan berkelanjutan sesuai Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Perkotaan Nasional, sehingga diharapkan dalam pengambilan kebijakan di masing-masing daerah dapat
mengakomodir tiga pilar tersebut," tutur dia.

Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Anita Firmanti mengatakan, hampir sebagian besar negara di dunia menghadapi persoalan yang sama, yaitu penyediaan perumahan dan sarana pendukungnya.

Di Indonesia sendiri, kata dia, urbanisasi dan keterbatasan akses terhadap rumah layak huni mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

Untuk mengatasinya, pemerintah kini tengah menggenjot pembangunan infrastruktur pemukiman serta perkotaan dan sarana konektivitas antarkota.

"Tujuannya, guna membangun dan meningkatkan ekonomi masyarakat agar mampu membiayai aktivitas kehidupan mereka yang pada akhirnya diharapkan mampu membangun kota dan membangun negara," ujarnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau