Kompas.com - 30/09/2017, 19:18 WIB
Sejumlah kendaraan antre di gerbang tol Cibubur Utama, Jakarta Timur, Kamis (7/9). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono telah mengeluarkan surat keputusan menghilangkan gerbang tol Cibubur dan Cimanggis mulai 8 September 2017, hal tersebut bertujuan untuk mengurai kemacetan pada ruas tol Jakarta, Bogor dan Ciawi (Jagorawi). ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/aww/17. ANTARA FOTO/Yulius Satria WijayaSejumlah kendaraan antre di gerbang tol Cibubur Utama, Jakarta Timur, Kamis (7/9). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono telah mengeluarkan surat keputusan menghilangkan gerbang tol Cibubur dan Cimanggis mulai 8 September 2017, hal tersebut bertujuan untuk mengurai kemacetan pada ruas tol Jakarta, Bogor dan Ciawi (Jagorawi). ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/aww/17.
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Jelang penerapan sistem transaksi non tunai 100 persen di gerbang tol (GT), jumlah pengguna kartu tol elektronik berangsur-angsur naik.

Berdasarkan catatan PT Jasa Marga (Persero) Tbk., saat ini pengguna kartu tol elektronik mencapai 49 persen. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan catatan pada awal Agustus lalu yang baru 28 persen.

"Sudah jalan pengkondisiannya. Posisi pada pertengahan September 49 persen," kata AVP Corporate Communications Jasa Marga Dwimawan Heru di Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Menurut dia, Jasa Marga sudah mengambil langkah maksimal untuk memberikan informasi kepada masyarakat, bila pada 31 Oktober mendatang seluruh transaksi non tunai diberlakukan.

Untuk itu, ia berharap masyarakat dapat segera beralih menggunakan transaksi non tunai. Selain itu, saat kebijakan ini diterapkan, 100 persen GT akan melayani transaksi non tunai. Meski demikian, Heru memastikan tidak semua GT merupakan gerbang tol otomatis (GTO).

"Gardu semi otomatis (GSO) juga ada, jadi tetap gardunya tapi reader-nya kami keluarkan. Jadi masyarakat bisa transaksi secara mandiri," kata dia.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna menambahkan, sosialisasi transaksi non tunai saat ini jauh lebih baik bila dibandingkan tahun 2008.

Intervensi yang dilakukan pemerintah, tak hanya pada peningkatan produksi kartu tetapi juga dalam menyediakan alat transaksi di masing-masing GT.

"Tapi ini tetap harus terus disosialisasikan kembali ke masyarakat, sehingga penetrasinya lebih meningkat lagi," kata Herry di kantornya, Jumat (29/9/2017).

Dia menambahkan, salah faktor penyebab terjadinya kemacetan di jalan tol adalah transaksi di GT. Di samping keterbatasan ruas dalam menampung jumlah mobil.

Herry memastikan, pemerintah akan memperbaiki persoalan kemacetan di tol ini satu per satu. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih nyaman dan lancar saat berkendara.

"Di GT ini kan tempatnya terbatas. Nah kalau semua transaksi membutuhkan waktu lebih panjang ya antreannya pasti lebih panjang lagi," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.