Tarif Tol Bawen-Salatiga Dinilai Mahal, Ini Penjelasan BPJT

Kompas.com - 20/09/2017, 13:12 WIB
Kendaraan pemudik terpantau ramai keluar di Gerbang Tol Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017). Pemudik berasal dari Jalan Tol Bawen-Salatiga yang sudah difungsionalkan pada H-7. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGKendaraan pemudik terpantau ramai keluar di Gerbang Tol Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017). Pemudik berasal dari Jalan Tol Bawen-Salatiga yang sudah difungsionalkan pada H-7.
|
EditorHilda B Alexander

UNGARAN, KompasProperti - Para pengguna jalan menilai tarif yang akan diberlakukan untuk ruas Tol Bawen-Salatiga terlalu mahal.

Untuk jalan bebas hambatan sepanjang 17.6 kilometer ini, PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pemegang konsensi jalan, membebani pengguna dengan kendaraan golongan I sebesar Rp 17.500, golongan II Rp 26.500, golongan III Rp 35.000, golongan IV Rp 44.000 dan kendaraan golongan V Rp 53.000.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hendro Prastowo (40) warga Ambarawa mengangggap tarif yang akan berlaku mulai jumat (22/9/2017) tersebut cukup mahal. Apalagi untuk masyarakat yang akan menggunakan jalan tol ini sebagai jalur harian.

"Saya akan sering lewat jalan tol ke Salatiga karena ibu saya di sana. Saya harus merogoh kocek Rp 35.000 untuk bolak-balik dari Ambarawa-Salatiga kalau lewat tol. Kalau bisa diturunkan lagi," kata Hendro, Rabu (20/9/2017) pagi.

Menanggapi hal ini, Staf Bidang Operasi dan Pengembangan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Joko Santoso menjelaskan, yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan tarif ini adalah biaya investasi yang cukup besar.

Selain itu, ada perubahan desain di beberapa titik akibat penambahan pekerjaan, termasuk untuk memenuhi permintaan dari masyarakat maupun instasi terkait.

"Perubahan desain ini akibat adanya penambahan lingkup pekerjaan, satu di antaranya karena ada permintaan warga sekitar maupun instansi. Seperti relokasi utilitas hingga pembangunaperlintasan,” kata Joko, Rabu (20/9/2017).

Akibat penambahan lingkup pekerjaan ini, PT TMJ harus menambah biaya investasi. Dengan begitu, dari penghitungan nilai investasi tersebut, tarif yang diusulkan ke Kementerian PUPR sebesar Rp 1.000 per kilometer dan usulan ini tekah disetujui.

Joko membantah, tarif tol Bawen-Salatiga termasuk paling mahal di Indonesia.

"Tidak benar jika disebut arif termahal, ruas Kertosono-Mojokerto di Jawa Timur saja ditetapkan Rp 1.160 per kilometer. Dalam penghitungan tarif, dihitung berdasarkan ability to pay atau willingness to pay, serta beberapa hal lainnya," jelasnya.

Hal lain yang digunakan sebagai dasar penghitungan tarif tol adalah disparitas biaya operasional antara penggunaan kendaraan di jalan tol serta jalan non tol (jalur reguler).

Kemudian proyeksi keuntungan dari investasi badan usaha jalan tol (BUJT) yang telah dikeluarkan.

"Jadi bukan semata mengukur jarak, tapi investasi yang dikeluarkan di setiap kilometernya juga dihitung. Jadi tarif per kilometer di ruas Banyumanik-Ungaran, bisa jadi berbeda dengan di ruas Ungaran-Bawen, maupun Bawen-Salatiga," tuntasnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.