Ini Kendala Membangun Rumah Apung

Kompas.com - 02/03/2017, 21:00 WIB
Model pondasi apung dengan turbin milik Wijanraka Arka. Wijanarka ArkaModel pondasi apung dengan turbin milik Wijanraka Arka.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Pembuatan rumah apung bukanlah sebuah hal yang mustahil. Namun, tidak semua daerah bisa menjadi lokasi pembangunan rumah apung tersebut.

Pada dasarnya, rumah apung bukan merupakan sebuah ide baru, melainkan telah menjadi bagian dari sejarah arsitektur lampau karena menjadi awal mula sebuah permukiman terbentuk.

"Di beberapa bagian Kalimantan dan Sumatera, rumah apung menjadi awal mula suatu permukiman dan juga menjadi sejarah dalam arsitektur Indonesia," kata Arsitek sekaligus Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya Wijanarka Arka, kepada KompasProperti, Kamis (2/3/2017).

Namun, lanjut Arka, keberadaannya perlahan hilang akibat modernisasi yang muncul di berbagai kota.

Baca: Rumah Apung Bisa Dibangun dengan Turbin Air

Untuk bisa membangunnya kini menurut Arka justru banyak hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari peraturan sampai dengan lokasi pembangunannya.

Sekarang ini kalau mau membuat rumah apung kendalanya ada di peraturan bangunan di sempadan sungai.

"Sementara kalau di daerah dengan sungai berukuran cukup besar dipertimbangkan untuk bisa walaupun harus dibatasi panjang, lebar, dan sanitasinya supaya nggak mengotori," jelas Arka.

Selain itu, lanjut Arka, yang perlu diperhatikan dalam membangun rumah apung adalah lebar dan kedalaman sungainya.

Idealnya rumah terapung harus ada di sungai-sungai dengan lebar lebih dari 100 meter. Tujuannya agar tidak menganggu lalu lintas perahu atau kapal yang ada di sungai.

"Sedangkan untuk kedalaman sungai minimal dua meter karena konstruksi untuk pondasi apungnya butuh satu meter sehingga 70 persen pondasi apung harus tenggelam dan 30 persen sisanya terapung," tambah dia.

Syarat berikutnya adalah berat rumah yang mampu ditopang oleh pondasi apung tidak melebihi batas beratnya.

Misalnya pondasi apung punya beban maksimal 1.000 kilogram, sebaiknya untuk di atasnya maksimal 700 kilogram atau idealnya 500 kilogram.

"Jadi perbandingannya 2:1. Ini bisa diperoleh dengan memilih bahan untuk lantai, dinding, dan material lainnya yang ringan," tutup Arka.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X