Pemerintah Harusnya Bangun Rusun di Dekat Stasiun MRT Jakarta

Kompas.com - 27/02/2017, 15:43 WIB
Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018. KOMPAS.COM/GARRY ANDREW LOTULUNGAktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Rencana pemerintah mengembangkan kawasan transit oriented development (TOD) di sekitar stasiun mass rapid transit (MRT).

Namun, bagaimana konsep pengembangannya belum dijelaskan secara rinci. Bahkan saat ini, di sekitar stasiun, lebih banyak pengembangan hunian berupa apartemen mewah.

Padahal seharusnya, TOD memudahkan masyarakat menengah ke bawah untuk mengakses MRT Jakarta sehingga dapat memotong biaya transportasi sehari-hari.

"Sekarang kan sudah terbukti, kita naik Transjakarta itu murah, tapi ke haltenya yang mahal. Harus naik ojek atau naik angkot," ujar Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus saat diskusi "Transportasi Massal untuk Siapa?", di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Menurut Reza, pemerintah sebaiknya fokus membangun rusun yang terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah di sekitar kawasan TOD tersebut.

Dengan pemerintah membangun sendiri rusunnya, maka biaya untuk perizinan tidak terlalu mahal.

Baca: Siapa yang Menikmati MRT Jakarta

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau dilepas ke pasar, pasti yang menang yang punya duit. Karena kawasannya mahal, pengembang pasti tidak mau bangun rusun," sebut Reza.

Ia menjelaskan, jika mau mengembangkan kawasan TOD, pemerintah harus menerapkan peraturan hunian berimbang di kawasan tersebut.

Selama ini, pengembang membangun unit apartemen mewah di dalam kota Jakarta, tapi rumah untuk MBR ditempatkan di luar kota, seperti Banten, Bogor, Depok, dan Bekasi.

Hal ini membuat di dalam satu kawasan, hanya terdapat hunian mewah, dan tidak menganut prinsip keadilan.

Reza juga menyarankan, paling tidak pemerintah atau PT MRT Jakarta menyiapkan kendaraan penghubung atau feeder yang terintegrasi sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat yang tinggal jauh dari stasiun.

"MRT Jakarta ke kawasan Hotel Indonesia (HI) itu saja, enggak ada feeder-nya. Dari Pondok Aren atau Sawangan misalnya, enggak bisa ke (stasiun) Lebak Bulus dengan murah. Padahal harapannya MRT Jakarta dapat memotong biaya dan waktu tempuh," kata Reza.

Baca: Penghuni-penghuni Apartemen Ini yang Bisa Menikmati MRT Jakarta



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X