Kompas.com - 27/02/2017, 08:00 WIB
Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018. KOMPAS.COM/GARRY ANDREW LOTULUNGAktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Pengembangan mass rapid transit (MRT) masih berlangsung dan diperkirakan mulai beroperasi pada 2019.

Jalurnya yang terdiri dari dua koridor, yakni Selatan-Utara dan Timur-Barat, dibuat untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Namun, siapakah yang akan menikmati MRT?

"Sebenarnya MRT ini bagus, tapi bukan melayani kantong-kantong masyarakat, karena yang dilewati kawasan-kawasan kurang padat," ujar Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus dalam diskusi "Transportasi Massal untuk Siapa?" di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Reza menuturkan, dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah menentukan koridor MRT tahap pertama, yakni Lebak Bulus-Bundaran HI.

Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang disahkan pada 2014, sebanyak 7 stasiun berada di kawasan kurang padat.

Sementara kawasan yang paling padat di Jakarta, yakni Kembangan, Jakarta Barat dan Cakung, Jakarta Timur tidak dilewati MRT.

Hal yang dipertanyakan, kenapa justru pemerintah mendahulukan pembangunan stasiun MRT di kawasan yang kurang padat penduduk ketimbang kawasan yang padat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, Reza juga mempertanyakan rencana pemerintah dalam menentukan pembangunan transit oriented development (TOD) di setiap stasiun.

"Itu konsep bagus, tapi kalau kita lihat zonasi dalam RDTR, mau dibangun apa?" sebut Reza.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pada RDTR dalam radius maksimal 800 meter-1,5 kilometer, atau jarak maksimal yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki jika dibuat TOD.

Kalau dilingkarkan saja radius tersebut, hampir seluruh zona tidak ada rumah susun, justru yang ada adalah rumah mewah, kantor komersial, dan kantor pemerintahan.

"Seharusnya yang dilayani itu kantong-kantorng warga di sana. Setidaknya 800 meter dari rencana stasiun, tapi enggak ada rusun atau rumah terjangkau," kata Reza.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X