Rancangan Arsitektur "Berlubang" Paling Unik di Dunia (I)

Kompas.com - 29/12/2016, 15:06 WIB
Poro City Khushalani AssociatesPoro City
|
EditorHilda B Alexander

Poro City yang dirancang oleh para arsitek dari Khushalani Associates pada 2015 lalu merupakan rencana merestrukturasi lingkungan padat penduduk di Dharavi, Mumbai, salah satu kawasan kumuh terbesar di dunia.

Struktur piramida dalam desain digambarkan para arsiteknya sebagai "integrasi kota tiga dimensi" yang ada di atas lahan seluas 216 hektar dan mampu mengakomodasi sekitar 376.000 orang dan 5.000 bisnis.

Konsep ini juga menawarkan ruang terbuka publik, sekolah, taman, dan rumah sakit. Alam terbuka yang berasal dari 'lubang' bangunan membiarkan kubikel-kubikel berbeda untuk mengisi atau menambahkan jika nanti ada ruang kosong baru.

3. Opus Office Tower (Dubai, Uni Emirat Arab)

Bangunan yang dirancang mendiang Zaha Hadid ini akan terdiri dari dua struktur ketika selesai nanti dan dikonsepsikan sebagai sebuah kubus tunggal yang terkikis oleh bentuk bebas kekosongan.

Mengingat suhu panas di UEA, orang-orang akan salah paham menganggap es batu di bagian tengah gedung telah mencair.

Menurut aristeknya, fasad berupa piksel-piksel reflektif akan membuat kubus terlihat penuh pada siang hari.

Namun, ketika malam kubus tersebut melakukan dematerialisasi sehingga secara khusus mengisi kekosongan di tengah dengan banjiran cahaya.

Zaha Hadid Architects Opus Office Tower

4. Technology, Entertainment & Knowledge Center (Taipei, Taiwan)

Arsitek asal Denmark Bjarke Ingels mengajukan rancangan kubus besar ini untuk bangunan Technology, Entertainment & Knowledge Center (TEK) di Taipei.

Bermacam lubang kosong merupakan titik masuk dan titik pandang untuk pejalan kaki yang bisa masuk melalui gedung menggunakan tangga internal dari lantai dasar ke taman atap.

Di dalam kubus, para pejalan kaki dan karyawan akan berjalan melewati kantor, toko, ruang pameran, ruang hotel, ruang konferensi, dan area eksibis.

Pada atap kubus, sebuah lintasan diperluas membentuk area publik informal yang besar dan semua restoran di lantai griya tawang dibuat terbuka.

"Hal itu menciptakan titik berkumpul alami bagi remaja-remaja Taipei untuk berkumpul dan melakukan kegiatan informal lainnya," kata Bjarke.

Bjarke Ingels Technology, Entertainment & Knowledge Center

Halaman:


Sumber CNN
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X