Kompas.com - 24/11/2016, 19:44 WIB
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani,  Wali Kota non-aktif Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dan  Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat mengunjungi pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Gampong Jawa, Banda Aceh, Kamis (24/11/2016). Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Wali Kota non-aktif Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat mengunjungi pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Gampong Jawa, Banda Aceh, Kamis (24/11/2016).
|
EditorHilda B Alexander

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (Akkopsi) VIII mengadakan City Sanitation Summit (CSS) XVI di Banda Aceh, Kamis (24/11/2016).

Pelaksana tugas Wali Kota Banda Aceh, Hasanuddin Ishak mengatakan, Akkkopsi merupakan wadah yang berharga bagi upaya percepatan target universal akses sanitasi, terutama di Banda Aceh.

"Rasio rumah tinggal yang berakses sanitasi sudah 97 persen, dengan cakupan pelayanan sampah 88 persen dan air bersih 88 persen," ujar Hasanuddin saat sambutan acara tersebut.

Menurut dia, Akkopsi memiliki peran penting untuk menetapkan langkah kongkret dalam upaya mencapai target sanitasi 100 persen.

Seperti diketahui, perbaikan sanitasi merupakan bagian agenda penting dunia saat ini. Tujuan utama sasaran pembangunan berkelanjutan adalah sanitasi layak sebagai kebutuhan dasar yang berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat.

"Banda Aceh menyatakan peduli pada pengembangan sanitasi yang komitmennya ditunjukkan melalui intgrasi dokumen perecanaan kota," kata Hasanuddin.

Ia menambahkan, saat ini Banda Aceh memiliki drainase dengan panjang 186 kilometer. Drainase yang terbagi dalam 8 zona ini, terbukti efektif menangani banjir dan genangan, terutama saat musim hujan.

Selain itu, untuk penanganan banjir, pemerintah kota juga membangun 9 rumah pompa dengan 129 pintu air.

"Pendekatan pemeliharaan lingkungan digalakkan di berbagai kesempatan. Program ruang terbuka hijau mencapai 809,7 hektar dari target 920 hektar," kata Hasanuddin.

Ia menyadari banyak hal yang perlu dilakukan untuk perbaikan sanitasi Banda Aceh, baik dalam segi pemenuhan air bersih, pengelolaan limbah dan sampah.

Dukungan dari Akkopsi, kata Hasanuddin, akan berharga untuk upaya tersebut. Mengingat, target pengembangan sanitasi 100 persen untuk masyarakat Banda Aceh pada tahun 2019.

"Melalui CSS ini, kami rekomendasikan peningkatan partisapsi masyarakat dalam upaya pencapaian universal akses. Masyarakat harus memahami pentingnya sanitasi, kualitas hidup, perilaku dan kebiasaan untuk cinta dan peduli sanitasi," tandas Hasanuddin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.