Tanggapi Tudingan Jonan, Kepala BPJT Bilang Insiden "Brexit" Tanggung Jawab Bersama

Kompas.com - 08/07/2016, 14:27 WIB
Kemacetan mengular sepanjang 18 kilometer di ruas tol Pejagan - Brebes Timur, Jawa Tengah, Jumat (01/07/2016). Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-3 lebaran. KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMOKemacetan mengular sepanjang 18 kilometer di ruas tol Pejagan - Brebes Timur, Jawa Tengah, Jumat (01/07/2016). Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-3 lebaran.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna memilih untuk tidak menanggapi pernyataan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang melemparkan kesalahan dan tanggung jawab kemacetan parah jelang pintu keluar Tol Pejagan-Brebes yang berakibat meninggalnya belasan pemudik.

"Saya memilih untuk tidak menanggapi alias no comment. Tidak pada tempatnya kami sebagai pejabat negara saling melempar tanggung jawab," ujar Herry kepada Kompas.com, Jumat (8/7/2016).

Namun, Herry mengakui kemacetan dan insiden kematian belasan pemudik selama kurun 29 Juni hingga 5 Juli 2016 lalu merupakan tanggung jawab bersama. 

Semua harus bertanggung jawab, termasuk dirinya dan BPJT yang dipimpinnya. Pasalnya, menjelang H-7 Lebaran, pemerintah menggelar rapat koordinasi kesiapan mengawal dan memonitor arus mudik dan balik.

"Semua pihak yang terlibat dalam kelancaran dan pengamanan arus mudik dan balik Lebaran hadir. BPJT, Korlantas Polri, Dirjen Perhubungan Darat, semua ada," ungkap Herry.

Jadi, kata dia, tidak seharusnya Menteri Jonan mengatakan BPJT tidak siap menghadapi situasi seperti di Brebes tempo hari.

Antisipasi dan pengamanan jalur Lebaran sudah sesuai dengan Standard Operation Procedure (SOP). Termasuk rekayasa lalu lintas berupa contra flow, pengalihan arus lalu lintas, dan juga buka tutup gerbang tol.

"Semua sudah disepakati bersama. Masalahnya adalah, jumlah kendaraan melonjak dibanding ketersediaan jalan. Untuk ini pun kami sudah mengantisipasinya dengan menyiapkan jalur-jalur alternatif," sebut Herry.

Jalur Lebaran yang bisa digunakan oleh pemudik, kata Herey, tidak sebatas jalan tol, melainkan ada juga jalan non-tol dengan kapasitas dan level yang dimiliki provinsi, kota dan kabupaten yang dilintasi maupun dituju.

Jalan non-tol tersebut di antaranya adalah jalur lintas utara jawa yang merupakan kelas jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota atau jalan kecamatan yang justru bukan merupakan domain BPJT.

"Ini adalah tanggung jawab bersama. Mari kita cari solusi bersama," kata Herry.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X