Kompas.com - 03/03/2016, 16:51 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Persoalan besaran iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) masih menjadi polemik hingga Undang Undang (UU) Tapera disahkan Selasa, 23 Februari 2016 lalu. Pada akhirnya, besaran iuran tersebut tidak dicantumkan dalam UU melainkan akan diatur dalam peraturan pemerintah (PP).

Besaran iuran Tapera bahkan memicu kontroversi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) contohnya, mereka keberatan dengan usulan pungutan sebesar 3 persen, dan menolak UU Tapera ini diberlakukan.

Rinciannya, pungutan dari pemberi kerja sebanyak 0,5 persen dan pekerja 2,5 persen. Besaran itu kemudian dianggap membebani sebagian besar pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Apindo.

 
Menurut mereka, pungutan itu terlalu besar mengingat saat ini para pelaku usaha sudah dibebani biaya 10,24 persen hingga 11,74 persen dari penghasilan untuk program jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan.

Kendati begitu, pemerintah bersikukuh menetapkan besaran iuran Tapera adalah 3 persen dan tetap akan diatur dalam PP.

"Pemerintah akan membahas dengan semua pemangku kepentingan tapi sudah ada semacam gentlemen agreement bahwa total iuran tidak akan lebih dari 3 persen," tegas Direktur Jenderal (Dirjen) Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR), Maurin Sitorus, di Jakarta, Kamis (3/2/2016).

Penetapan besaran iuran Tapera sebesar 3 persen diakui Maurin sudah melalui banyak tahapan dan kajian. Menurutnya, dengan 3 persen itu, Indonesia bisa bersaing dengan beberapa negara di Asia terkait pembiayaan perumahan.

Dari 3 persen itu, dana yang sudah terhimpun jumlahnya sangat signifikan dan sudah sama dengan Malaysia, Bangladesh, dan India, tetapi masih belum bisa menyamai Singapura sebesar 35 persen.

Maurin memperkirakan dana yang bisa dihimpun oleh Badan Pengelola (BP) Tapera hanya dari iuran Tapera-nya saja dalam lima tahun pertama adalah Rp 50 triliun hingga Rp 60 triliun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.