Kompas.com - 30/01/2016, 10:11 WIB
Sebanyak 25 persen pembeli mencari informasi mengenai properti melalui internet, kemudian 23 persen lainnya dari media cetak, dan 18 persen dari media iklan luar ruang (billboard). Dok Paramount LandSebanyak 25 persen pembeli mencari informasi mengenai properti melalui internet, kemudian 23 persen lainnya dari media cetak, dan 18 persen dari media iklan luar ruang (billboard).
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang properti makin menyadari bahwa cara-cara konvensional memasarkan properti makin tergerus. Perkembangan teknologi digital dan perubahan cara belanja konsumen memaksa mereka beralih untuk mengembangkan konsep pemasaran secara online.

Hal itu bisa dilihat dari perkembangan bisnis e-commerce di Indonesia yang terus melesat dalam lima tahun terakhir. Hasil riset diprakarsai oleh Asosiasi E-commerce Indonesia (Idea), Google Indonesia, dan TNS (Taylor Nelson Sofres) memperlihatkan bahwa pada 2013 lalu nilai pasar e-commerce Indonesia mencapai 8 miliar dollar AS atau setara Rp 94,5 triliun.

Tahun ini angka itu diprediksi naik tiga kali lipat menjadi 25 miliar dollar AS atau Rp 295 triliun. Potensi tersebut dibarengi dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

"Kemajuan teknologi digital telah begitu menguasai pasar saat ini, tidak terkecuali pasar properti. Pemasaran secara online lebih memudahkan konsumen karena jangkauan viral menjadi lebih dekat ke target market secara langsung," ujar Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Land, Jumat (29/1/2016), terkait diluncurkannya platform online SuperPro.id.

Sebelumnya, pada tengah tahun lalu Paramount sudah meluncurkan SuperPro atau Supermarket Properti, sebuah inovasi dalam distribusi penjualan offline. Ervan mengatakan, melihat animo masyarakat semakin kuat dalam memanfaatkan internet sebagai media berbelanja, pihaknya lalu mengembangkan SuperPro.id.

"Pemasaran secara online lebih memudahkan konsumen, karena jangkauan viralnya menjadi lebih dekat ke target pasar secara langsung. Berdasarkan hasil survei calon pembeli properti, urutan pertama pertimbangan konsumen properti untuk mencari apa yang diinginkan adalah melalui situs properti," kata Ervan.

"Selain itu, lebih hemat waktu, proses lebih efisien karena mereka tinggal membuka handphone atau komputer," tambahnya.

Kapan dan dimana saja

Fenomena bertumbuhnya masyarakat yang mencari informasi mengenai properti via internet sudah lebih dulu direspon oleh Synthesis Development, pengembang Bassura City. Tak tanggung-tanggung, mereka menyiapkan segala sesuatunya termasuk infrastruktur dan sistem pembayaran internet dengan menggandeng perusahaan di bidang payment gateway PT Nusa Inti Artha (DOKU).

Namun, sebelum peluncuran belanja properti secara online itu, Synthesis melakukan survei perilaku konsumen. Hasilnya, sebanyak 25 persen pembeli mencari informasi mengenai properti melalui internet, kemudian 23 persen lainnya dari media cetak, dan 18 persen dari media iklan luar ruang (billboard).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.