Kompas.com - 14/11/2015, 13:38 WIB
Prof. Ernawati Sinaga, Guru Besar Biokimia-Biologi Molekuler Universitas Nasional.  Dok UnasProf. Ernawati Sinaga, Guru Besar Biokimia-Biologi Molekuler Universitas Nasional.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - DKI Jakarta memiliki potensi keanekaragaman hayati yang luas. Sayangnya, minimnya ruang terbuka hijau (RTH) dan gencarnya pembangunan hunian dan komersial menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati di perkotaan.

Demikian hal itu dipaparkan Dr. Tatang Mitra Setia, ahli biologi dari Universitas Nasional, Sabtu (14/11/2015). Dia memaparkan hal itu dari hasil seminar nasional yang diketuainya bertajuk 'Biologi Perkotaan: Biologi untuk Kehidupan harmonis manusia dan alam, pada Rabu (11/11/2015) lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tatang mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Lebih dari 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 7,3 persen reptil, dan 17 persen burung dunia ada di Indonesia. Tingginya keanekaragaman itu juga diikuti dengan tingginya ancaman yang mengakibatkan krisis keanekaragaman hayati.

Kehilangan habitat menduduki rangking tertinggi sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup keanekaragaman hayati. Selain itu, minimnya RTH dan hadirnya spesias "alien" menyumbang 49 persen sebagai ancaman keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya keanekaragaman hayati di perkotaan.

"Keanekaragaman hayati itu bukan warisan nenek moyang, tapi titipan anak cucu kita. Saat ini kepedulian terhadap keberadaan keanekaragaman hayati, terutama di perkotaan sangat menurun. Oleh sebab itu, upaya meningkatkan kepedulian dan upaya pelestarian adalah tugas kita bersama," kata Tatang.

Menurut dia, perkotaan juga tempat hidup dari fauna dan flora yang kini semakin terdesak dengan percepatan pembangunan berupa rumah, gedung dan sarana transportasi. Padahal, banyak kehidupan keanekaragaman hayati yang belum terungkap, baik potensi dan keragaman jenisnya.

Sebelumnya, kesimpulan menarik lain dari seminar yang juga disampaikan ke Kompas.com itu adalah perihaltingginya potensi keanekaragaman hayati di bidang tanaman obat. Menurut Prof. Ernawati Sinaga, pembicara lain dari Universitas Nasional mengatakan, banyak jenis tanaman obat yang hidup dan mudah ditemukan di Jakarta.

"’Hasil penelitian yang dilakukan, untuk wilayah Jakarta Selatan saja terdapat sekitar 80 jenis tanaman obat. Saya optimistis, di Jakarta ini bisa ditemukan 200 sampai 300 jenis tanaman obat," kata Ernawati.

"Tanaman obat itu sangat multifungsi. Ada yang bisa menjadi tanaman hias, rempah-rempah untuk memasak sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit,’" tambahnya.

Ernawati mencontohkan tanaman kembang sepatu yang, apabila daunnya dihancurkan dapat digunakan untuk meredakan demam. Bunga melati dan mawar pun, lanjut dia, dapat digunakan sebagai kosmetik serta rempah-rempah, misalnyajahe, temulawak, dan lainnya. 

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.