Teknologi Bor Sodetan Ciliwung Mirip Bor MRT Jakarta

Kompas.com - 12/10/2015, 19:00 WIB
Proyek sudetan Kali Ciliwung di Jalan Otista III,  Jakarta Timur, Senin (12/10/2015). Arimbi RamadhianiProyek sudetan Kali Ciliwung di Jalan Otista III, Jakarta Timur, Senin (12/10/2015).
|
EditorHilda B Alexander

‎JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam upaya mengendalikan banjir di ibu kota Jakarta, pemerintah mulai menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk proyek terowongan anti-banjir sudetan Kali Ciliwung.

Menteri Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan, teknologi tinggi yang digunakan adalah tunnel boring machine (TBM) dengan cara kerja rancang dan bangun atau design and build.

TBM dipilih setelah melalui diskusi panel yang menilai beberapa teknologi yang diusulkan para penyedia jasa konstruksi. Selain TBM, terdapat pula teknologi cut and fill. Namun, setelah dinilai kemanfaatan dan efektivitasnya, TBM yang dipilih.

" Teknologi cut and fill memiliki kekurangan, yakni tanah maupun jalan harus dibongkar seluruhnya. Satu-satunya yang memungkinkan untuk dipakai adalah design and build yaitu TBM," tutur Basuki, saat meninjau proyek sudetan di Jalan Otista III, Jakarta, Senin (12/10/2015).

Ketika mengajukan, lanjut Basuki, Wijaya Karya mempelajari teknologi ini ke Jepang selama seminggu. Teknologi ini mirip seperti yang dipakai pada pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Kedua proyek ini memiliki kesamaan yakni dibangun di bawah tanah.

"Teknologinya sama antara Sodetan Ciliwung dengan terowongan MRT. Hanya saja diameter Sodetan Ciliwung lebih kecil hanya 3,5 meter, kalau yang MRT 7 meter diameternya," jelas Basuki.

Alat bor yang digunakan diproduksi oleh ISEKI Polytech, Jepang, berjumlah dua unit TBM tipe EPB (Earth Pressure Balance). Mesin TBM pertama merupakan dari Jepang, sementara alat kedua dari Shanghai. Rencana produktivitas adalah 7,5 meter per hari per alat atau 3 potong pipa masing-masing sepanjang 2,5 meter per hari per alat.

Saat ini, kata Basuki, alat bor ini masih dioperasikan oleh tenaga ahli dari Jepang namun didampingi tenaga ahli dari Indonesia. Dia berharap, setelah menyelesaikan proyek ini, pemerintah bisa mengerjakan sendiri tanpa bantuan Jepang untuk proyek lainnya.

Sodetan Ciliwung diharapkan dapat mengurangi volume air sebanyak 60 meter kubik per detik. Sementara rata-rata debit air di Ciliwung mencapai 570 meter kubik per detik. Dengan adanya sodetan maka debit air Ciliwung bisa berkurang menjadi 510 meter kubik per detik.


Saksikan video kehidupan warga Bidaracina:

Kompas Video Mereka yang Akan Digusur di Bidaracina

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X