Kearifan Lokal Mencegah Kerusakan Lingkungan

Kompas.com - 24/09/2015, 16:00 WIB
Salah satu rumah karya arsitek Yu Sing yang mengusung konsep kearifan lokal. ideaonline.co.idSalah satu rumah karya arsitek Yu Sing yang mengusung konsep kearifan lokal.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Menerapkan konsep kearfian lokal pada pembangunan hunian masa kini bukanlah tanpa tantangan. Arsitek dari Studio Akanoma, Yu Sing, menjelaskan bahwa penerapan konsep tersebut sebenarnya ditujukan untuk meminimalisasi kerusakan alam akibat suatu proyek pembangunan.

Pembangunan di daerah perkotaan, seringkali dampak negatifnya tidak tertangani dengan baik. Contohnya lahan terbuka berkurang hingga mengurangi lahan resapan. Sebagai respons terhadap kerusakan inilah konsep kearifan lokal harus diterapkan. Namun Yu Sing mengakui, beberapa pihak tertentu masih tidak menyadari pentingnya konsep tersebut.

“Kadang klien merasa mengutamakan penerapan kearifan lokal justru kurang menguntungkan, karena banyak material lokal tidak bisa didapatkan secara cepat dan banyak. Mereka merasa material industri akan lebih efisien waktu,” jelas Yu Sing pada Kompas.com, Rabu (23/9/15).

Ini tentu menjadi kendala bagi proyek bangunan publik dan komersial yang pembangunannya harus sesuai tenggat waktu tertentu.

Tak hanya bangunan publik, Yu Sing mengakuipenolakan terhadap konsep ini juga beberapa kali ia alami ketika membangun proyek hunian. Salah satunya adalah proyek rumah di kawasan Pantai Indah Kapuk. Lahan tersebut awalnya adalah kebun bakau. Berlandaskan hal tersebut, Yu Sing berencana mengembalikan fungsi lahan sebagai tempat tumbuhnya bakau.

Dia pun merancang konsep rumah panggung, dengan harapan bagian bawah rumah tetap menjadi area resapan dan bakau bisa tumbuh kembali. Namun sayangnya, sang klien menolak usulan ini karena lebih menginginkan desain rumah biasa.

Yu Sing menjelaskan, bentuk rumah panggung sebenarnya adalah solusi tepat untuk kawasan perkotaan minim area resapan. Untuk proyek hunian, biasanya Yu Sing menaikkan lantai satu setinggi 60 cm–2 meter. Bagian bawah rumah panggung tetap dibiarkan menjadi area resapan, juga dapat digunakan sebagai garasi atau area bermain anak.

Rancangan rumah panggung tak hanya mampu mempertahankan area resapan, tapi juga mengurangi kebutuhan akan tanah urukan. “Biasanya di suatu perumahan, pemilik rumah ingin ketinggian rumahnya di atas level permukaan jalan. Untuk itu tentu membutuhkan tanah urukan dalam jumlah banyak,” papar Yu Sing.

Dalam rancangan rumah panggung, lantai rumah dapat dinaikkan dengan mengandalkan fondasi. Arsitek tak perlu lagi mengeruk tanah dari tempat lain sebagai tanah urukan, sehingga kerusakan lingkungan pun dapat dihindari.

“Beberapa kali saya temukan, suatu perumahan mengambil tanah urukan dari kampung di belakang komplek tersebut. Akibatnya lingkungan kampung itu jadi rusak, karena banyaknya tanah yang dikeruk dan dipindahkan tanpa ada penanganannya,” ungkap Yu Sing.

Yu Sing menambahkan bila memang konsep rumah panggung masih sulit diterima maka masih ada contoh solusi lainnya. Konsep perumahan di daerah Palembang, contohnya. Di sana, beberapa perumahan mengeruk tanah dari lahan di tengah wilayahnya sendiri untuk menaikkan ketinggian lahan rumah.

Namun titik pengerukan tersebut selanjutnya dijadikan danau buatan dan area hijau, sehingga kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi.

 

 

 

 

 

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X