Yang Muda yang Terus Bertani - Kompas.com

Yang Muda yang Terus Bertani

Kompas.com - 28/08/2015, 21:00 WIB
ARI PRASETYO/Kompas.com Musim kemarau yang panjang memaksa para petani tanaman padi mengalihkan garapannya ke tanaman bawang. Eko Cahyono merupakan salah satu yang memilih opsi ini. Bersama dengan rekannya sesama warga Limbangan, Eko menggarap lahan seluas 1 hektar untuk ditanami bawang dengan modal Rp 30 juta hasil pinjaman. Gambar diambil pada Selasa (18/8/2015).
BREBES, KOMPAS.com - Perawakannya kurus dengan tinggi 160 centimeter. Di balik tubuh ringkihnya, Eko Cahyono memiliki kekuatan tekad, dan semangat untuk terus bekerja menghidupi dirinya, keluarganya, dan orang-orang yang menggantungkan harapan penghidupan padanya.

Anak muda berusia nyaris seperempat abad ini sedang mengolah lahan seluas 1 hektar ketika Kompas.com menemuinya di Desa Limbangan, Kersana, Kabupaten Brebes pada pertengahan Agustus 2015. Eko, bersama sepuluh ibu-ibu muda warga desa yang sama, bahu membahu menjemput rezeki dengan menanam bawang.

Di tengah kekeringan, dan ancaman kemarau panjang sebagai dampak El Nino, petani seperti dirinya harus tetap bekerja, menanam, dan berproduksi. Jika tidak, kata Eko, dia hanya akan menjadi bagian dari orang-orang yang berpangku tangan, meratapi nasib, dan malas mengubah keadaan.

Karena itu, Eko rela mengambil risiko. Meski gagal memanen padi pada April lalu, dia berani meminjam uang ke bank, dan teman-temannya yang punya penghasilan lebih baik darinya. Jumlah total uang yang dia pinjam senilai Rp 30 juta dengan masa tenor tiga bulan.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Warga menanam bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, Selasa (18/8/2015). Warga mengaku kesulitan mendapatkan air untuk pertanian akibat kekeringan saat musim kemarau.
Bagi Eko, gagal panen padi bukan berarti nafas kehidupan harus berhenti berdetak. Pengalaman kehilangan potensi penghasilan Rp 35 juta-Rp 40 juta dari 1 hektar tanaman padi, bukan sekali ini saja. Setiap musim kemarau, Eko mengalami hal yang sama.

Tak mengherankan, ketika ditanya, mengapa tak beralih profesi atau berganti peran menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, atau merantau ke Jakarta seperti anak muda lainnya, Eko dengan mantap menjawab; menjadi petani adalah garis tangan hidupnya.

"Susah atau enggak, saya bertani saja," kata Eko seraya tersenyum.

Lebih singkat

Untuk menggarap lahan seluas 1 hektar yang dibagi dua menjadi masing-masing setengah hektar, Eko setidaknya membutuhkan dana Rp 35 juta. Setelah mendapat utangan Rp 30 juta, dia harus mencari selisih kekurangannya Rp 5 juta. 

Tak putus asa, Eko mendapatkan selisih itu dari teman-temannya yang lain, sehingga uang di genggaman genap Rp 35 juta. 

"Dari uang sebanyak itu, saya bagi-bagi. Sejumlah Rp 6 juta untuk mengolah lahan, Rp 12 juta membeli bawang di pengepul untuk dijadikan bibit, sewa pompa Rp 6 juta, dan Rp 6 juta buat pupuk serta pestisida," papar Eko. 

Sementara untuk tenaga penanam bawang, Eko merekrut sepuluh ibu muda yang diberinya upah Rp 27.000 per hari.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Warga menanam bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, Selasa (18/8/2015). Warga mengaku kesulitan mendapatkan air untuk pertanian akibat kekeringan saat musim kemarau.
"Panen bawang lebih singkat waktunya. Saya hanya butuh waktu dua bulan. Tapi, itu dengan catatan air sungai di sekitar lahan garapan tidak kering. Ini saya beralih 
nanem brambang karena sawah padi kering dan rusak," tutur Eko.

Karena itu, dalam lima bulan ke depan, setelah bawang, Eko akan menanami lahan yang disewanya dengan cabai dan kemudian bawang kembali sampai musim hujan tiba.

"Kalau hujan tidak turun sampai Desember nanti, saya tetap akan tanam bawang meskipun hasilnya tak sebesar nanem padi. Daripada menganggur gak ada kerjaan," kata Eko.

Demikianlah Eko, sang pekerja keras. Sosok yang mewakili kaum proletar. Kaum yang tak pernah berhenti bertarung, memperebutkan hari-hari yang kadang pasti, tak jarang pula pergi.

Eko tidak mengeluh, atau pun mempertanyakan keadaan. Kendati malamnya kerap tercuri pagi, sehingga tak sempat menikmati mimpi. Karena baginya, malam hanyalah milik mereka para pendamba harapan.

Eko percaya, Tuhan punya kepastian, petani tetaplah harus menanam, sampai fajar tak kunjung datang, dan jarum jam berhenti berdebam.

Berikut video perjalanan tim Kompas.com, menyoroti kehidupan para petani di Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Brebes:

Kompas Video Petani yang Bertahan Diterpa El Nino


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHilda B Alexander

Close Ads X