Euro Merosot, Bisnis Perhotelan Arab "Gonjang-ganjing"

Kompas.com - 30/06/2015, 12:16 WIB
Burj Khalifa, Dubai, uni Emirat Arab. TOPHOTELPROJECTSBurj Khalifa, Dubai, uni Emirat Arab.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Dampak merosotnya mata uang Euro dan makin perkasanya Dollar AS menjadi tantangan utama yang dihadapi para pebisnis perhotelan di negara-negara semenanjung Arab, macam Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain.

Di kota Dubai, Uni Emirat Arab, contohnya. Seperti dikutip hotstas.com, tarif kamar rerata atau average room rate (ARR) anjlok mendekati 11 persen menjadi 272 dollar AS selama bulan Mei 2015.

Meskipun tingkat hunian tetap kuat di angka 83,8 persen, atau naik 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penurunan ARR tersebut mengakibatkan pengurangan 8,7 persen pendapatan per kamar yang tersedia atau revenue per available room (RevPAR).

Empat hotel bintang lima di kota terbesar kedua ini mengalami penyusutan total RevPAR dan laba kotor masing-masing 11,7 persen, dan 14,5 persen.

Hal yang sama terjadi juga di Jeddah, Arab Saudi. Tingkat hunian merosot 0,6 basis poin menjadi 75 persen. Hal ini memaksa para pelaku bisnis perhotelan mengurangi tarif kamar untuk mempertahankan pangsa pasar.

ARR merosot 10,6 persen menjadi 258,19 dollar AS. Demikian halnya dengan RevPAR yang juga jatuh 17,2 persen menjadi 193,74 dollar AS dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun pendapatan makanan dan minuman lebih tinggi sehingga mampu membantu mengimbangi penurunan pendapatan kamar, total RevPAR dan labar kotor tak bisa dipertahankan dan terus melorot 14,7 persen menjadi 317,44 persen dan 29,8 persen menjadi 143,04 dollar AS.

Perlambatan selama musim panas akibat Euro terjerembab, juga terjadi di Doha, Qatar, dan Manama, Bahrain.

Hotel-hotel di Doha merasakan efek perlambatan yang terjadi awal musim panas seiring turunnya kinerja selama bulan Mei. Penurunan tingkat hunian sebesar 1,3 persen menjadi 74,9 persen dan ARR melambat 2,8 persen menjadi 210,27 dollar AS.

Meski demikian, kinerja sebaliknya ditunjukkan segmen permintaan atas makanan dan minuman yang menguat sehingga total RevPAR tumbuh 4,9 persen menjadi 408,85 dollar AS. Peningkatan pendapatan juga dibukukan hotel-hotel di Doha dengan laba kotor 1,8 persen menjadi 181,52 dollar AS.

Lima hotel di Manama juga mencatat penurunan. Tidak hanya dari segmen tingkat hunian, melainkan juga ARR, masing-masing 3,7 persen menjadi 49,6 persen dan 6,6 persen menjadi 179,07 dollar AS.

Pendapatan keseluruhan yang lebih rendah itu diperparah dengan biaya operasi yang lebih tinggi. Ini berdampak signifikan terhadap laba hotel, yang jatuh 19,5 persen menjadi 53,70 persen.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X