Jalan Hanya Ditambal-sulam, Pemerintah Harus Investasi Teknologi Konstruksi

Kompas.com - 12/05/2015, 14:21 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Di Indonesia, istilah "tambal-sulam" untuk memperbaiki jalan sudah tidak asing lagi. Biasanya jalan yang rusak atau berlubang, ditambal dengan aspal baru. Meski begitu, hasil penambalan ini seringkali menyebabkan jalan malah tidak rata.

Kondisi ini paling nyata terlihat di sepanjang Jalan Nasional Jalur Pantai Utara (Pantura) yang terbentang antara Merak hingga Ketapang, Banyuwangi. Seperti diketahui, setiap tahun, apalagi menjelang Lebaran, pemerintah selalu mengerjakan penambalan jalan yang sudah rusak. Namun, penambalan ini tidak berlangsung lama.

"Teknologi dan sumber daya manusia kita terbatas. Kalau melihat sejarah, Pantura agak sulit," kata Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Yusid Toyib, di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Untuk membetulkan Jalan Pantura, kata Yusid, membutuhkan waktu yang tidak sebentar, mengingat tingkat kerusakannya cukup parah. Selain itu, Pantura merupakan satu-satunya jalan yang digunakan pengendara, khususnya truk-truk besar, untuk melintasi kota-kota di sepanjang Pulau Jawa. Dengan demikian, jika dilakukan perbaikan jalan, maka akan menghambat arus lalu lintas dan menyebabkan kemacetan parah.

Oleh sebab itu, untuk memperbaiki jalan dalam waktu yang relatif cepat, pemerintah hanya bisa menambalnya. Dalam rangka mempercepat pengerjaan konstruksi jalan itulah, pemerintah membutuhkan alat berat dengan teknologi tinggi.

Salah satu teknologi tinggi yang sudah bisa diaplikasikan untuk mengembangkan infrastruktur jalan adalah slipform paver. Produk ini berasal dari Amerika Serikat yang dibawa ke Indoensia oleh PT Rutraindo Perkasa.

Menurut General Manager PT Rutraindo Perkasa, David Harjadi slipform paver  bisa mempercepat pengerjaan sekaligus memperhalus jalan yang dihasilkan.

"Menggunakan metode ini durasi waktu dan hasil kerjanya jauh lebih bagus, permukaan lebih licin, lebih rata dibandingkan pengerjaan dengan manual atau sebelumnya," ujar David.

Meski demikian, metode ini bukanlah metode baru dan sudah lama digunakan di luar negeri. Namun, di Indonesia, metode ini tergolong masih jarang karena kontraktor bertahan dengan metode konvensional.

David mengklaim, produk slipform paver sangat layak digunakan, mengingat target  percepatan infrastruktur. Jika dibandingkan dengan pengerjaan konvesional yang mengandalkan tenaga manusia, percepatan pembangunan jalan bisa naik empat kali lipat.

"Tenaga kerja bisa dialihkan untuk pengerjaan alat lain yang sama fungsinya, di tempat yang berbeda," kata David.

Terkait ongkos pengadaan barang, ia menuturkan, slipform paver memang lebih mahal daripada mesin konvensional. Meski begitu, berdasarkan perhitungannya, dalam 2-3 tahun investasi sudah kembali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.