Kompas.com - 05/05/2015, 06:00 WIB
ilustrasi worldpropertychannel.comilustrasi
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Menjelang pameran Tropicality Revisited yang akan diadakan di museum Deutches Architektur, Frankfurt, Jerman pada September 2015 mendatang, dua arsitek asal Indonesia Avianti Armand dan Setiadi Sopandi mengumpulkan karya-karya yang relevan.

Setelah menerima lebih dari 70 karya terkini dari sekitar 41 arsitek perorangan maupun biro, mereka akhirnya menetapkan 12 karya dari 12 arsitek. Karya-karya ini dianggap bisa memeriahkan ragam warna dari tema yang diusung oleh tim kurator.

Pemilihan karya tersebut dilakukan untuk menyokong tema kuratorial Tropicality Revisited. Tema ini bertujuan supaya publik Eropa dan dunia mengenal bagaimana wacana dan praktik arsitektur terkini di Indonesia dipengaruhi oleh “tropikalitas”.

Tropikalitas dalam arsitektur di Indonesia dimaknai sebagai bagaimana kondisi dan persepsi mengenai iklim tropis memberikan inspirasi bagi arsitek-arsitek Indonesia dalam berkarya. Dengan kata lain, tropikalitas berarti sampai sejauh mana kondisi iklim tropis menciptakan gagasan-gagasan ke dalam karya-karya terkini. Gagasan-gagasan tersebut diposisikan sebagai upaya, sikap ataupun anggapan terhadap iklim.

Dengan pertimbangan tersebut, keduanya menelusuri dan akhirnya memilih karya-karya yang menampilkan ragam upaya dan sikap terhadap iklim tropis di Indonesia. Ragam upaya dan sikap ini tidak terbatas hanya pada memberikan perlindungan terhadap ‘masalah’ panas matahari dan hujan.

Namun, arsitek diharapkan mampu memberikan gagasan kreatif dan artistik mulai dari bagaimana menerima hujan, merekayasa cahaya, menghalau lembab, berteduh dalam bayang-bayang, membangun selubung, meregang celah, mendinginkan naungan, hingga membiarkan angin sepoi-sepoi menerobos seluk beluk pojok ruang.

Keseluruhan paparan Tropicality Revisited tidak terbatas pada ke-12 karya dan arsitek ini namun juga meliputi banyak karya lain yang diusulkan, serta melibatkan repertoar karya-karya arsitektur di Indonesia sepanjang lebih dari seratus tahun perkembangannya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gagasan ini tidak hanya tertuang dalam pameran, namun juga buku yang menyertai pameran ini. Diharapkan, gagasan tersebut juga dapat memeriahkan kajian mengenai catatan perkembangan sejarah arsitektur di Indonesia.

Berikut adalah nama-nama arsitek beserta karya-karya mereka yang akan ditampilkan pada Tropicality Revisited yang telah dipublikasi melalui laman www.tropicalityrevisited.wordpress.com.

1. Achmad Tardiyana dengan Rumah Baca, Bandung
2. Adi Purnomo, Studi-O-Cahaya, Jakarta
3. Ahmad Djuhara, Wisnu Steel House, Bekasi
4. Andra Matin, AM Residence, Jakarta
5. Csutoras & Liando, Misbar, Jakarta
6. d-Associates, Tamarind House, Jakarta
7. EFF Studio, Almarik, Bali
8. Eko Prawoto, EP House, Yogyakarta
9. Kristoporus Primeloka & Akanoma, Ciledug Timber House, Cibubur
10. LABO House #1, The Mori, Bandung
11. Studio Tonton, Ize, Bali
12. Urbane Indonesia, Masjid Baiturrahman, Merapi



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X