Kualitas Udara Buruk, Perkantoran Beijing Tetap Diincar Perusahaan Multinasional

Kompas.com - 13/04/2015, 07:00 WIB
Polusi udara menjadi pertimbangan utama perusahaan berkantor di Beijing, Tiongkok. worldpropertychannel.comPolusi udara menjadi pertimbangan utama perusahaan berkantor di Beijing, Tiongkok.
|
EditorHilda B Alexander

 

KOMPAS.com - Kualitas udara kotor dan berpolusi, ternyata tidak memengaruhi pasar perkantoran. Baru-baru ini, CBRE Beijing, merilis sebuah laporan mengenai dampak kabut asap industri terhadap minat perusahaan melakukan ekspansi, dan menambah ruang kantornya.

Laporan CBRE ini menyebutkan, pengembang selaku pemilik gedung perkantoran sangat peduli terhadap kualitas udara di Beijing. Sekitar 66 persen dari responden yang disurvei mengatakan polusi udara merupakan kelemahan utama pasar perkantoran sewa di ibu kota Tiongkok tersebut.

Sementara 68 persen responden meyakini bahwa polusi udara akan mengancam kesehatan karyawan, dan efisiensi kerja. Selain itu, terdapat 60 persen responden yang percaya bahwa polusi udara telah membuat ekspatriat senior kurang bersedia untuk bekerja di Beijing. Selanjutnya 29 persen percaya bahwa polusi udara memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan perkantoran.

Keprihatinan penyewa, dan penghuni gedung-gedung perkantoran atas kualitas udara yang buruk di Beijing telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, aktivitas sewa dan tingkat serapan bersih ruang kantor terus anjlok.

Hal ini telah menyebabkan spekulasi apakah kualitas udara menentukan kinerja perkantoran. Temuan CBRE menunjukkan bahwa permintaan untuk ruang kantor di Beijing tetap kuat. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara penyerapan bersih yang lebih rendah dan kualitas udara yang buruk.

Associate Director Research CBRE Tiongkok Utara, Tin Sun, mengatakan meski kualitas udara buruk menjadi perhatian utama, Beijing tetap menjadi pilihan utama ketika perusahaan memilih lokasi sebagai kantor pusat regional atau nasional mereka. Kekhawatiran utama dari perusahaan yang disurvei ternyata fokus pada kesehatan karyawan mereka dan kesulitan merelokasi ekspatriat senior untuk bekerja di Beijing.

Namun, tidak ada bukti menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara kualitas udara yang buruk dan aktivitas sewa kantor menurun selama dua tahun atau lebih. Kegiatan sewa berlangsung aktif dalam beberapa tahun terakhir didorong kekurangan pasokan dan biaya sewa meningkat.

Kekosongan ruang tetap rendah sejak 2011, sekitar 4,4 persen pada kuartal IV 2014 atau terendah di antara 17 pasar domestik utama yang dipantau CBRE. Pasokan baru terbatas selama dua tahun terakhir dan tidak bisa memenuhi permintaan potensial dari pasar. Kekurangan ruang kantor yang tersedia di Beijing telah menyebabkan kenaikan konstan dalam harga sewa.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X