Kompas.com - 10/03/2015, 21:16 WIB
Kebakaran di Wisma Kosgoro, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2015) pukul 18.30. Foto kiriman Setyo Adi Nugroho SETYO ADI NUGROHOKebakaran di Wisma Kosgoro, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2015) pukul 18.30. Foto kiriman Setyo Adi Nugroho
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 126 bangunan tinggi di Jakarta rawan kebakaran. Sebagian dari gedung-gedung tersebut belum memiliki sistem proteksi kebakaran, sebagian sudah memiliki namun kondisinya tidak terawat, serta minimnya tenaga teknisi yang mengoperasikan sistem proteksi kebakaran.

Berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Bencana (PKPB) Provinsi DKI Jakarta, 126 gedung tersebut terbagi atas 37 milik pemerintah dan 89 milik swasta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada pun jenis bangunannya, terdiri dari perkantoran (75 bangunan), apartemen (29 bangunan), hotel (9 bangunan), pusat perdagangan dan mal (1 bangunan), institusi (8 bangunan), dan gedung multifungsi atau mixed use (4 bangunan). Sedangkan 261 bangunan masih belum terdata karena merupakan gedung baru.

Kepala Dinas PKPB DKI Jakarta, Subedjo, menuturkan banyak kasus kebakaran pada bangunan tinggi disebabkan karena tidak adanya perawatan pada sistem proteksi kebakaran. Pemasangan sistem proteksi kebakaran tersebut hanya untuk mematuhi Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran.

"Sistem proteksi kebakaran jangan hanya jadi pajangan. Ini kan sangat penting. Seringkali pengelola itu hanya melakukan pemasangan sistem proteksi kebakaran, tapi tidak melakukan perawatan. Hidrannya terpasang, tapi untuk sumber air pompa hidran justru tidak ada,” ujar Subedjo kepada Kompas.com, Selasa (10/3/2015).

Menurut Subedjo, perawatan sistem proteksi kebakaran, harus dilakukan secara rutin. Pasalnya, kondisi prima dari sistem proteksi diperlukan saat timbulnya kebakaran.

"Harus ada perawatan rutin dari pengelola mengenai sistem proteksi kebakaran gedung. Kita sudah melakukan himbauan minimal satu tahun sekali diadakan maintenance sistem proteksi kebakaran ini,” lanjut Subedjo.

Dia berharap, pihak pengelola memiliki komitmen yang kuat dalam mementingkan keamanan pengguna bangunan. Pasalnya, kondisi rawan keselamatan kebakaran bangunan tinggi tersebut disebabkan karena kurangnya komitmen pengelola dalam mencegah kebakaran.

"Pengeloa gedung-gedung ini harus punya komitmen yang kuat untuk melakukan pemasangan sistem proteksi kebakaran. Kalau tidak punya itikad baik, baru beberapa bulan pasang bisa jadi tidak berfungsi,” tandas Subedjo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.