Dosen IPB: Indonesia Sulit Air Bersih

Kompas.com - 03/03/2015, 22:00 WIB
Anak-anak mencuci muka di Kali Ciliwung yang penuh dengan hunian di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (15/2/2015). Pencemaran sungai di Jakarta sudah jauh di atas ambang batas yang diisyaratkan. bahkan, dari sekitar 807.000 pelanggan air dari dua perusahaan air minum di DKI Jakarta, hampir 300.000 di antaranya tidak terlayani. KOMPAS/AGUS SUSANTOAnak-anak mencuci muka di Kali Ciliwung yang penuh dengan hunian di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (15/2/2015). Pencemaran sungai di Jakarta sudah jauh di atas ambang batas yang diisyaratkan. bahkan, dari sekitar 807.000 pelanggan air dari dua perusahaan air minum di DKI Jakarta, hampir 300.000 di antaranya tidak terlayani.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Di Indonesia, baru 20 persen masyarakat yang dapat mengakses air bersih layak minum. Dari total 200 juta penduduk, baru 40 juta yang terlayani air layak minum melalui jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Menurut data Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral, hingga tahun 2015, diperkirakan pemenuhan kebutuhan air bersih di Indonesia baru mencapai 68,9 persen dari total kebutuhan air bersih penduduk secara nasional.

Sedangkan informasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan, ketersediaan air bersih yang benar-benar layak untuk dikonsumsi masyarakat, diperkirakan cadangannya hanya tersisa tinggal 18 persen dari total keseluruhan persediaan.

"Tak mengherankan, jika sebagian besar masyarakat Indonesia yang hidup di pantai, dan pulau-pulau kecil memanfaatkan air bersih dari hujan. Itu karena air bersih sangat susah ditemui. Jadi harus mengandalkan PDAM," jelas Dosen Tenik Sipil dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, Roh Santoso Budi Waspodo, kepada Kompas.com, Selasa (3/3/2015).

Dia mencontohkan, warga di Kepulauan Seribu, sangat susah mendapatkan air bersih. Air yang ada, kualitasnya sangat buruk sehingga berbahaya untuk dikonsumsi.

Selain di daerah pantai, air dari sungai juga tidak kalah buruknya. Pasalnya, banyak aktivitas keseharian dilakukan di sungai, mulai memandikan kerbau, bebek, cuci, buang air besar, buang sampah dan sebagainya. Bahkan, pabrik-pabrik dan industri membuang limbahnya juga ke sungai.

"Dengan begitu, air sungai menjadi tidak layak dikonsumsi," tegas Roh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Timbal

Sayangnya, masyarakat kita seringkali tidak menyadari bahwa air yang sudah tercemar,  mengandung zat-zat yang berbahaya, di antaranya timbal. Timbal atau plumbum adalah salah satu unsur kimiawi. Unsur ini diyakini mengandung toksik atau racun yang berbahaya. Karena mampu larut dalam air, timbal bisa secara tidak sengaja dikonsumsi oleh manusia.

"Timbal itu prinsipnya memengaruhi kesehatan. Dia larut di dalam darah dan menimbulkan penyakit," ujar Roh. Dalam jangka panjang, kata Roh, timbal bisa mengakibatkan penyakit antara lain gangguan syaraf, ginjal, hingga sistem reproduksi dan fungsi paru-paru.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X