Inilah Bedanya Bisnis Hotel Jakarta dan Pulau Dewata...

Kompas.com - 21/01/2015, 19:25 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski sektor perhotelan di Jakarta dan Bali sama-sama mengalami pertumbuhan signifikan, namun terdapat perbedaan mencolok yang akan memengaruhi tren pada tahun ini.

Menurut National Director Head of Advisory JLL Indonesia, Vivin Harsanto, perbedaan tersebut ada pada performa tarif rerata harian (average daily rate atau ADR), pendapatan per kamar tersedia (revenue per available room atau RevPAR), dan tingkat okupansi sepanjang 2014.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di Jakarta yang didominasi oleh hotel bisnis, tingkat okupansi hotel menengah (midscale) dan kelas atas (upscale) turun sebesar tiga persen menjadi masing-masing 66 persen dan 63 persen jika dibandingkan dengan tahun 2013," tutur Vivin.

Sebaliknya, lanjut Vivin, ADR dan RevPAR justru melonjak 16 persen menjadi 84 dollar AS (Rp 1,042 juta) dan 10 persen menjadi 55 dollar AS (Rp 682.380) untuk hotel kelas menengah. Sedangkan performa ADR kelas atas tercatat 11 persen lebih tinggi yakni 180 dollar AS (Rp 2,2 juta), dengan RevPAR mencapai pertumbuhan 5 persen menjadi 113 dollar AS (Rp 1,4 juta).

"Pemilik hotel di Jakarta berusaha keras mengejar pertumbuhan RevPAR dengan menaikkan ADR. Pasalnya, bertambahnya pasokan kamar baru pada tahun 2014 dan 2015 mendorong tingkat okupansi sedikit lebih rendah," jelas Vivin.

Berbeda halnya dengan Bali yang didominasi hotel leisure. Kinerja tingkat okupansi justru berbanding terbalik dengan Jakarta, yakni naik tipis satu persen menjadi 69 persen untuk hotel kelas menengah, 73 persen untuk hotel kelas atas, dan 71 persen untuk hotel kelas mewah.

Tahun lalu, hotel klasifikasi atas dan mewah tersebut mencatat tingkat okupansi masing-masing 70 persen dan 66 persen.

Sementara kinerja ADR dan RevPAR terjengkang, kecuali ADR dan RevPAR hotel kelas menengah yang naik tipis, sebesar masing-masing 4 persen menjadi 114 dollar AS (Rp 1,4 juta) dan 5 persen menjadi 79 dollar AS (Rp 980.145).

ADR hotel kelas atas anjlok 10 persen menjadi 159 dollar AS (Rp 1,9 juta), demikian halnya dengan RevPAR yang merosot 6 persen menjadi 117 dollar AS (Rp 1,4 juta).

"Performa ADR dan RevPAR hotel kelas mewah pun serupa, terpuruk 12 persen menjadi 445 dollar AS (Rp 5,5 juta), dan 5 persen menjadi 316 dollar AS (Rp 3,9 juta)," imbuh Vivin.

Para pemilik hotel di Bali, menurut Vivin, lebih memilih mengejar tingkat okupansi, meskipun untuk itu, mereka harus menurunkan ADR. Hal ini terpaksa dilakukan karena jumlah kamar hotel baru di Pulau Dewata ini terus bertambah.

Berdasarkan riset JLL, tahun ini hingga 2018 mendatang terdapat 15.300 kamar hotel baru. Sebanyak 41 persen di antaranya hotel kelas menengah, 26 persen kelas ekonomi, 17 persen kelas mewah, dan 16 persen hotel kelas atas.


Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.