"Jakarta Tidak Akan Menjadi Kota yang Baik"

Kompas.com - 08/01/2015, 09:57 WIB
Warga membeli tiket bus transjakarta yang melayani angkutan malam hari (amari) di Halte Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (3/6/2014). Terkait rencana pengoperasian bus selama 24 jam, Unit Pengelola (UP) Transjakarta telah resmi mengoperasikan 18 armada transjakarta amari sejak 1 Juni. WARTA KOTA / ANGGA BHAGYA NUGRAHAWarga membeli tiket bus transjakarta yang melayani angkutan malam hari (amari) di Halte Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (3/6/2014). Terkait rencana pengoperasian bus selama 24 jam, Unit Pengelola (UP) Transjakarta telah resmi mengoperasikan 18 armada transjakarta amari sejak 1 Juni.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - "Jakarta tidak akan menjadi kota yang baik". Pernyataan tersebut dikemukakan Bambang Eryudhawan, praktisi arsitektur yang intens mengamati perkembangan Kota Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2015). 

Bambang menyebut Peraturan Zonasi (zoning regulation) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang merupakan dokumen acuan dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah DKI Jakarta, tidak akan bisa menghasilkan Jakarta yang lebih baik.

"Sulit dimengerti. Coba cek peraturan zonasinya. Kalau kota dirancang hanya menggunakan tabel dan mengabaikan intuisi serta pemahaman nyata mengenai karakter sebuah kota, hasilnya hanya akan berupa kumpulan bangunan. Bukan kota yang efisien, indah, nyaman, mudah diakses dan lain-lain," tuturnya.

Dia menambahkan, dalam praktiknya, Jakarta tidak ramah terhadap warganya. "Pantai publik saja tak ada! Marunda, sampai hari ini ya sama seperti dulu. Ancol sudah terlalu lama dibiarkan menjadi pantai semi publik dengan karcis berbayar," keluh Bambang.

Ibu kota

Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, menurut Bambang haruslah dirancang komprehensif dengan mengakomodasi aspek-aspek keibukotaan. Jakarta tidak bisa hanya diperlakukan sebagai sebuah provinsi.

"Bagaimana Jakarta bisa lebih baik, jika ibu kota Indonesia ini hanya diperlakukan sebagai sebuah provinsi. Sementara aspek keibukotaannya kurang mendapatkan porsi yang cukup," tandasnya.

Terlebih bila mencermati perkembangan Kota Jakarta saat ini yang menurut Bambang sudah sangat meresahkan.

Dia kemudian mencontohkan pembangunan koridor layang XIII Transjakarta Ciledug-Blok M yang dimulai April 2015. Koridor layang ini melintasi Jl Kiai Maja, Jl Trunojoyo, dan Jl Wolter Monginsidi yang seluruhnya berada di kawasan Kebayoran Baru.

"Rest in peace untuk kawasan Kebayoran Baru. Kebayoran Baru terbelah dua, ditambah pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di barat dan timur Jalan Antasari, habis sudah keutuhan Kebayoran Baru," tandas Bambang mengungkapkan keresahannya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.