Ongkos Bangun Rumah Hanya Rp 55 Juta dalam Dua Hari!

Kompas.com - 12/11/2014, 17:45 WIB
Contoh rumah modul ariefsabaruddinContoh rumah modul "RISHA".
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Tak perlu dana besar dan waktu lama untuk membangun sebuah rumah impian layak huni. Hanya dengan Rp 55 juta, sebuah "istana" bisa dibangun dalam waktu dua hari.

Ya, rumah tersebut merupakan rumah modul yang dikembangkan oleh empat anak muda berbakat dari Universitas Kristen Maranatha Bandung. Mereka adalah Willy Tanjaya, Roi Milyardi, Franz Purnomo, dan Febrina Vienna Soulisa.

Menurut Yosafat Aji Pranata, sang dosen pembimbing, rumah sistem modul ini bisa dibangun oleh siapa saja, dan di mana saja serta mudah disesuaikan dalam kondisi tertentu. Terutama di daerah-daerah rawan bencana dan kawasan kumuh.

"Mudah mendapatkan material bangunannya, bisa dibangun dengan cepat sehingga efektif dan efisien dalam pemanfaatan waktu serta yang penting adalah dapat menjadi solusi bagi backlog rumah untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)," beber Yosafat kepada Kompas.com, usai meraih penghargaan Juara Harapan II Indocement Awards 2014 kategori Semen Tiga Roda Fabricated House Competition, kepada Kompas.com, Selasa (11/11/2014).

Rumah modul, timpal Willy, sangat efektif karena hanya membutuhkan sumber daya lebih sedikit dibanding membangun rumah konvensional.

"Dibutuhkan hanya empat orang pekerja, dan satu mandor untuk menyelesaikan konstruksi selama dua hari. Dua hari ini estimasi bila kondisi cuaca normal," ujar Willy.

Ditambahkan Febrina, rumah modul yang berbahan prapabrikan dan dapat dibongkar pasang ini mengikuti konsep rumah tumbuh.

"Bila anggota keluarga bertambah, rumah ini bisa dikembangkan lagi lebih luas menjadi dua kamar tidur atau tiga kamar tidur," imbuh Febrina.

Teknologi konstruksi rumah modul dengan material prapabrikan, menurut Arief Sabaruddin, CES dari Puslitbang PU, sejatinya memang efektif mengatasi masalah kekurangan hunian bagi MBR.

Arief menjelaskan bahwa teknologi semacam ini juga sudah mulai diterapkan oleh Joko Widodo di Jakarta untuk membangun kampung deret. Menurutnya, jika dibandingkan dengan teknologi pembangunan rumah konvensional, cara baru ini lebih efektif. Sayangnya, Arief enggan menjabarkan sejauh mana sistem konvensional tertinggal jauh oleh sistem baru ini.

 
"Pre-fabricated house sangat cocok untuk membangun rumah di daerah kumuh," ujar Arief saat pamer keliling Indocement Awards di Politeknik Negeri Bandung.

Sebaliknya, cara konvensional, justru menyulitkan pembangunan rumah di daerah kumuh. "Itu material mau ditempatkan di mana? Dengan precast dia tinggal bangun saja. Bahkan, dengan pre-fabricated lebih cocok dan lebih rapi," ujarnya.

Hasilnya, kata Arief, lebih bagus, dan lebih cepat. Kalau yang konvensional tiga bulan, paling cepat dua setengah bulan. Kalau dengan ini, dua sampai tiga hari selesai. 

Soal biaya pun lebih murah. Menurut Arief, penggunaan metode ini membuat harga rumah bisa lebih murah antara 30 sampai 40 persen.
 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X