Ada Hotel, Harga Ruko Naik 35 Persen

Kompas.com - 10/11/2014, 08:00 WIB
Fasilitas kamar tipe Standard di Whiz Prime Cifest Cikarang. Kompas.com/Dhanang David AritonangFasilitas kamar tipe Standard di Whiz Prime Cifest Cikarang.
|
EditorLatief
CIKARANG, KOMPAS.com - Dampak pembangunan hotel dirasa cukup besar bagi ISPI Group. Hotel. Hal itu terbukti dengan meningkatkan daya jual lingkungan sekitarnya, termasuk ruko.

"Dulu ada kawasan ruko yang mengundang kami untuk bangun hotel. Di sana tadinya sepi pengunjung. Tapi, setelah dibangun hotel persis di depannya, yang tadinya sekelas toko kopi, kopi tubruk, sekarang ada Starbucks," ujar CEO Intiwhiz Mujianto, Susilo Tjahjono, di Cikarang Barat, Sabtu (8/11/2014).

Hal tersebut, lanjut Muji, juga terjadi pada ruko-ruko di Cifest Walk. Sejak adanya Hotel Whiz Prime, ruko-ruko itu mengalami peningkatan marjin keuntungan tinggi dan cepat, yaitu sekitar 35 persen setiap tahunnya.

Empat tahun lalu harga ruko di Cifest Rp 350 juta. Saat ini ruko yang siap pakai mencapai harga Rp 1,7-3 miliar.

Hal serupa juga dipaparkan oleh Komisaris Utama ISPI Group Preadi Ekarto. Menurut dia, permintaan ruko semakin meningkat.

"Ada yang bertanya sama saya, masih ada atau tidak yang harganya segitu. Saya bilang sudah habis," kata Preadi.

Saat ini, sebanyak 550 unit ruko yang terdiri atas tiga lantai sudah habis terjual. Pembelinya kebanyakan dari kalangan investor ritel, otomotif, kuliner dan pelayanan jasa yang menunjang kelangsungan bisnis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hotel bintang tiga ISPI bersama Intiwhiz meresmikan Hotel Whiz Prime dengan kategori bintang tiga yang mempunyai total 122 kamar. Dari total kamar tersebut, Hotel Whiz Prime membaginya menjadi tiga jenis kamar, yaitu standard room, superior room, dan deluxe room.

Preadi menuturkan, total investasi pembangunan Hotel Whiz Prime adalah Rp 70 miliar. Dia yakin dalam empat tahun akan balik modal.

"Ekspatriatnya di Cikarang saja sudah 30.000 per tahun bolak-balik," kata Preadi.

Dia menjelaskan, target penghuni hotel adalah para teknisi ekspatriat atau lokal yang bekerja di pusat industri Cikarang. Para teknisi ini tidak selalu membutuhkan fasilitas-fasilitas yang ada di hotel. Baca: Cikarang, Surganya Ekspatriat.

"Seringnya, tamu harus membayar cost lebih seperti kolam renang, tapi tidak dinikmati. Cost yang tak perlu ditanggung. Kami juga sediakan supaya orang tinggal tidak kekurangan, tapi fasilitas terpisah. Maka, dari segi harga lebih efisien," papar Preadi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X