Perang Tarif Hotel di Bandung Memakan "Korban"

Kompas.com - 07/09/2014, 13:39 WIB
ILUSTRASI - Kamar hotel ShutterstockILUSTRASI - Kamar hotel
|
EditorHilda B Alexander
BANDUNG, KOMPAS.com - Bermunculannya hotel-hotel baru di Bandung, terutama hotel dengan klasifikasi bintang tiga dan budget, membuat perang tarif antarpengelola tak terhindarkan.

Ketua DPD PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar, mengungkapkan, praktik banting harga kamar hotel tersebut terjadi sejak lima tahun lalu. Kehadiran sejumlah hotel baru ditengarai sebagai pemicu utamanya.

"Banyak pengelola hotel, terutama pengelola lokal, menurunkan tarif kamar. Hotel bintang tiga contohnya, dari sebelumnya dipatok pada angka Rp 600.000 per malam menjadi hanya Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per malam. Sementara hotel dengan kelas di bawahnya memasang tarif murah meriah hanya Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per malam," tutur Herman kepada Kompas.com, Minggu (7/9/2014).

Menurut Herman, tak hanya pengelola hotel bintang tiga dan ekonomi yang menurunkan tarif kamar. Pengelola hotel bintang lima pun tak luput ikut arus "permainan". Mereka yang sebelumnya mematok harga Rp 1 juta per malam, menjadi hanya Rp 550.000 per malam.

Akibat banting harga tersebut, banyak pengelola hotel yang akhirnya tak sanggup meneruskan peperangan. Tanpa menyebut nama, Herman mengatakan, para pemilik hotel pun melego asetnya dengan harga bersahabat.

"Ada yang kemudian menawari saya dengan harga Rp 80 miliar untuk hotel bintang tiga dengan jumlah kamar 50 unit. Ada juga yang memasang harga penawaran Rp 160 miliar untuk hotel kelas yang sama dengan jumlah kamar 200 unit. Kebanyakan hotel yang dijual itu berada di Bandung tengah, utara, dan selatan," tandas Herman.

Fenomena ini, kata Herman, sebagai akibat bebasnya perizinan hotel diberikan. "Tak ada pembatasan izin hotel, padahal jumlahnya sudah sangat banyak. Orang-orang berduit tak tahu harus menanam uang di mana, kemudian diiming-imingi bangun hotel. Padahal mereka tak punya kecakapan di sektor perhotelan. Mereka menyerahkan pengelolaan pada operator hotel nasional dan internasional," paparnya.

Membengkaknya jumlah hotel, kata Herman, membuat potensi pertumbuhan tingkat penghunian kamar (TPK) tidak setinggi lima tahun sebelumnya. Saat ini TPK rerata mencapai 52 persen. 

Berbeda dengan Herman, survei properti komersial Bank Indonesia (BI) justru menunjukkan kinerja positif. TPK secara rerata pada kuartal II 2014 tercatat sebesar 80,01 persen lebih tinggi dibandingkan 79,18 persen pada periode yang sama tahun 2013. Sedangkan angka rerata lama tamu menginap (length of stay) baik tamu asing maupun domestik selama 1,62 hari.

Hotel-hotel baru yang dikembangkan tahun ini seperti Pullman, Ibis Style, dan Dafam akan menambah pasokan kamar kumulatif di Bandung yang hingga kuartal II 2014 tercatat sebanyak 7.377 kamar. Jumlah kamar tersebut meningkat 0,55 persen secara triwulanan atau 0,55 persen tahunan.

Peningkatan pasokan pada periode tersebut berasal dari pengembangan hotel budget seperti Fave Hotel Pasir Kaliki dan Hotel Zodiak. Sementara untuk hotel berbintang, terdapat beberapa proyek yang tengah dikembangkan saat ini, sebut saja D'Green Pasteur dan Hotel Royal Tulip.

Bandung juga diketahui mencapai kinerja positif untuk tarif kamar hotel. Kenaikan tarif rerata tumbuh sebesar 3,26 persen secara triwulanan dan 39,08 persen secara tahunan.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X