Kompas.com - 24/07/2014, 14:27 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
JAKARTA,  KOMPAS.com - Direktur Pengembangan dan Penjualan Adhi Persada Properti (APP), R. Pulung Prahasto menuturkan bahwa perusahaannya kini beralih dari pengembangan di pusat kota ke luar Jakarta. Hal tersebut didorong oleh semakin terbatasnya lahan. Khusus untuk pengembangan proyek ritel, Jakarta pun tidak serta-merta memberikan izin pembangunan.

"Kita lari ke pinggiran Jakarta karena sudah sulit mencari lahan di Jakarta, begitu juga perizinan," ujar Pulung di Jakarta, Rabu (23/7/2014).

Selain itu, Pulung juga mengungkapkan bahwa peta pengembangan di dalam kota Jakarta pun sudah jenuh. Sebagai contoh, pengembangan residensial umumnya ada di Jakarta Selatan,  Barat,  dan Utara. Karena itu, perusahaannya mulai mengambil peluang di Jakarta Timur.

"Kalau lihat peta pengembangan ini, memang mayoritas pengembangan residensial di Jakarta Selatan. Pengembangan kedua di Jakarta Barat dan Utara. Di Timur lebih rendah, karena harga rumah di Jakarta Timur paling rendah," imbuhnya.

Di sisi lain, harga tanah yang begitu tinggi di Jakarta juga memaksa pengembangan hunian untuk kelas menengah bergeser ke luar Jakarta. Meski harga tanah tergolong cukup rendah di Jakarta Timur, itu pun masih terasa terlalu berat untuk pengembangan bagi masyarakat kelas menengah, apalagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Trennya di 2014 ini membuat harga tanah di Jakarta sudah tidak terjangkau dan sudah tidak bisa ditanggung untuk menjual apartemen middle-midle. Mereka harus bikin high end. Karena itu, kecenderungan pengembangan middle beralih ke pinggiran Jakarta," ujar Pulung.

Namun, daerah di pinggiran Jakarta yang dimaksud Pulung bukan daerah-daerah yang sudah ramai pembangunannya. Salah satu daerah yang sempat disebutkan Pulung adalah Depok.

Menurutnya, harga tanah di Depok sudah terlalu mahal. Namun, dia tidak menampik kemungkinan bahwa perusahaannya akan kembali membangun di kota tersebut, terutama  karena APP sendiri kini tengah giat membangun menara residensial di area sekitar universitas negeri.

"Di Depok sendiri lahan sudah sangat-sangat tinggi. Margonda itu sudah di atas 25 juta/m2. Depok habis lahannya. Jadi, dua tower cukuplah. Kecuali, sebelahnya jual lagi. Tapi, tampaknya agak susah. Kalau memungkinkan, kami akan kembali. Pokoknya, kami melihat potensi," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.