Berkat Tol, Harga Lahan Meroket 15 Persen

Kompas.com - 20/07/2014, 16:34 WIB
Tol JORRW2 ruas Kebon Jeruk sampai Ciledug. Tribunnews.com/Fajar PratamaTol JORRW2 ruas Kebon Jeruk sampai Ciledug.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Tak dimungkiri, pembangunan infrastruktur dapat menstimulasi perkembangan sebuah kawasan. Termasuk sektor propertinya. Bahkan, kehadiran jalan bebas hambatan (toll road) mampu mendongkrak harga lahan dan properti di sekitarnya menjadi lebih tinggi.

CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono memastikan hal tersebut terkait beroperasinya JORR W2 seksi Cileduk-Ulujami yang merupakan bagian dari segmen Kebon Jeruk-Ulujami pada 22 Juli mendatang, kepada Kompas.com, Minggu (20/7/2014).

Menurut Hendra, koridor Kebon Jeruk-Ulujami bakal menandingi koridor S Parman-Gatot Soebroto dan MT Haryono. "Yang membedakan mungkin hanya fasilitas transportasi umum. Di sini tidak ada jalur busway karena pinggir tol JORR W2 masih sempit. Jadi sudah waktunya jalan lokal tersebut dilebarkan," ujar Hendra.

Lebih jauh Hendra mengatakan, kenaikan harga di ruas Kebon Jeruk-Ulujami bisa sebanding dengan S Parman-Gatot Soebroto-MT Haryono, yakni berkisar 10 persen per tahun. Dengan begitu, seharusnya posisi aktual saat ini, harga lahan dan properti di Kebon Jeruk-Ulujami sudah separuh nilai lahan dan proeprti di  S Parman-Gatot Soebroto- MT Haryono

"Kalau transaksi aktif kenaikan harganya bahkan bisa sampai 15-20 persen per tahun. Tapi, kita ambil rerata saja, jadi 15 persen per tahun dalam 10 tahun terakhir," cetus Hendra.

Ada pun harga lahan aktual di kawasan Kebon Jeruk, Puri Indah dan Puri Kembangan sudah mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi. Sementara di segmen selatan Bintaro, Veteran dan Ulujami sekitar Rp 7 juta hingga Rp 12 juta per meter persegi.

Sedangkan harga propertinya, di kawasan Kebon Jeruk, Puri Indah dan Puri Kembangan sekitar Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per meter persegi. Sedangkan di arah selatan berada pada level Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per meter persegi.

Kenaikan harga bisa lebih tinggi lagi, seandainya kawasan Kebon Jeruk-Ulujami ditata lebih komprehensif dengan konsentrasi pada pengembangan kawasan terpadu lengkap dengan jaringan transportasi serta didukung jaringan arterial selain jalan tol.

Hendra mengusulkan jalan lokal dan jalur busway tidak saling memotong dan tumpang tindih. Demikian halnya dengan ramp masuk keluar tol. "Seharusnya tidak dibuat mirip dengan yang sekarang terjadi di koridor S Parman-Tomang-Grogol. Itu benar-benar tidak terencana. Jangan sampai ini terulang di Kebon Jeruk-Ulujami," tandas Hendra.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X