Australia Khawatir, Makin Banyak Orang Asing Beli Properti!

Kompas.com - 30/06/2014, 15:42 WIB
Miliarder Hong Kong dan konsorsium investasi Tiongkok-Australia berhasil memenangkan tender untuk membangun megaproyek kasino di Queensland, Australia.

www.onlinecasino.com.auMiliarder Hong Kong dan konsorsium investasi Tiongkok-Australia berhasil memenangkan tender untuk membangun megaproyek kasino di Queensland, Australia.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Australia sempat mengetatkan aturan seputar pembelian properti oleh warga negara asing. Namun, data terakhir yang tercatat pada awal tahun ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah pembelian properti di Australia oleh pihak asing. Bahkan, jumlahnya pun memecahkan rekor pembelian.

Berdasarkan data Bloomberg, perusahaan finansial global UBS AG melaporkan, selama sembilan bulan sampai 31 Maret lalu Australia telah menyetujui pembelian rumah oleh penduduk asing senilai 24,9 miliar dollar Australia atau sekitar Rp 277.977.001.951.581. Jumlah tersebut meningkat 93 persen dari periode sama pada tahun sebelumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal itu juga disadari oleh Pemerintah Australia. Bloomberg menyatakan, parlemen Australia tengah melakukan penyelidikan atas pembelian real estat oleh pihak asing. Pasalnya, Australia kini tengah dilanda kekhawatiran bahwa permintaan properti dari luar negeri akan mendorong kenaikan harga properti dan membuat harga rumah tidak terjangkau bagi warga Australia sendiri.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Berdasarkan data RP Data-Rismark Home Value Index, harga rumah di Australia saat ini naik 10,7 persen di delapan negara bagian dengan median mencapai 545.000 dollar Australia dalam 12 bulan hingga 31 Mei lalu.

"Permintaan asing meningkat meski valuasi dan dollar Australia relatif mahal," tulis ekonom UBS, Scott Haslem dan George Tharenou dalam laporan bertanggal 27 Juni 2014.

Sebelumnya, Senior Vice President for Sovereign Risk pada Moody’s Investors Service, Steven Hess, mengungkapkan dalam pernyataan tertulis bahwa meningkatnya harga rumah di Australia menunjukkan risiko jangka menengah untuk ekonomi Australia. Sementara itu, pasar perumahan setempat bisa mengalami "koreksi".

Namun, Bloomberg juga melaporkan bahwa kenaikan harga properti di Australia tidak serta-merta terjadi karena pembelian pihak asing. Harga properti di Australia terdongkrak lantaran permintaan dari dalam negeri meningkat, sedangkan pasokan rumah terbatas. Hal tersebut dinyatakan oleh Assistant Governor of the Reserve Bank of Australia, Christopher Kent.

Adapun empat tahun lalu Australia telah mengetatkan regulasi seputar pembelian properti oleh pihak asing dan menyiapkan penalti bagi pelanggarnya. Pada 2010, pemerintah Australia mengharuskan pembeli asing hanya membeli properti baru. Pihak asing yang hanya tinggal secara temporer di Australia pun harus mengantongi persetujuan dari Foreign Investment Review Board untuk membeli rumah. Mereka juga wajib menjual rumah tersebut kembali setelah meninggalkan Australia.



Sumber Bloomberg
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.